Margaret Thatcher, Dikagumi Sekaligus Disegani

Jia Xiang – Mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, Margaret Hilda Thatcher dianggap sebagai salah satu tokoh panutan di dunia karena keberaniannya dalam menentukan kebijakan bagi kemajuan bangsanya. Margaret lahir 13 Oktober 1925 dan Wafat pada 8 April 2013.

Perang Dingin antara blok Barat yang dimotori Amerika Serikat (AS) dengan Rusia yang didukung sejumlah negara Eropa Timur adalah masa penting yang dilalui Thatcher pada abad ke-20. Di bawah kepemimpinan Thatcher, Inggris menjadi salah satu negara yang memberi sumbangsih cukup besar bagi kemenangan blok Barat dalam memenangi perang dingin tersebut. Perang dingin yang merupakan pertarungan ideologi Barat dan komunis itu pada akhirnya membuat runtuhnya sejumlah negara komunis di Eropa.

Menurut berita yang dilansir oleh The Epoch Times, awal Mei 2013, Thatcher menganggap Mikhail Gorbachev, pemimpin Partai Komunis Soviet saat itu,  sebagai pemimpin Uni Soviet yang sangat berbeda dari pemimpin komunis lainnya. Dia dapat diajak berdialog, sehingga dirinya pun membujuk Presiden AS, Ronald Reagan, dan berhasil menjadi penghubung bagi kedua pemimpin yang tengah bersitegang  itu untuk berunding.

Perundingan demi perundingan itu akhirnya menjadi titik awal keruntuhan imperium Uni Soviet. Pada kondisi itu Inggris bergandengan tangan dengan AS meraih kemenangan terbesar dalam perkembangan sejarah manusia.

Jauh sebelum itu kepiawaian Thatcher juga cukup teruji saat menjabat sebagai perdana menteri di akhir periode 1979-1990.  Saat itu dia menghadapi situasi yang sangat sulit dari tekanan Partai Buruh berhaluan kiri yang berkuasa setelah PD II.

Saat itu paham sosialisme di Inggris jauh lebih tinggi dari pada di AS karena kabinet pemerintahan yang besar dan kebijakan pungutan pajak yang tinggi. Akibatnya melakukan reformasi di Inggris lebih sulit dibandingkan di AS.

Waktu itu Inggris juga menghadapi berbagai permasalahan seperti hutang yang menumpuk, pengangguran mencapai 13%,  inflasi hampir 20%, dan dianggap sebagai negara yang sistem paham sosialismenya bertumbuh hampir secepat Jerman Timur yang berpaham komunis. Inggris bahkan sempat dicap sebagai negara yang tidak dapat diatur lagi.

Namun Thatcher berani mereformasi dengan menghadapi boikot dari Partai Buruh. Dia mendapat tentangan dari Serikat Buruh sayap kiri (dari industri pertambangan, percetakan, transportasi, dan lain-lain), dan  dicekal oleh kubu para kompromis dari dalam partainya sendiri (Partai Konservatif). Tetapi Thatcher berani menghadapinya.

Ia tidak gentar memaksakan reformasi, mengurangi pajak dalam jumlah besar, menurunkan pajak pendapatan pribadi dari 83% (serta pajak pendapatan tidak langsung 98%) hingga 40%. Di saat yang sama, dia juga memprivatisasi BUMN, termasuk yang ada di sektor energi, listrik, transportasi, telekomunikasi, dan sektor lainnya. Saat itu Thatcher menyukai istilah yang disebut “marketisasi dan liberalisasi”.

Di sisi lain, saat itu dia berhasil memenangi kekuatan sayap kiri Partai Buruh (termasuk Serikat Buruh). Namun demikian beban yang timbul hampir sama dengan perang yang dipimpinnya saat merebut kembali Kepulauan Falklands dari tangan Argentina yang berjarak 8.000 mil dari Inggris.

Perjuangan Thatcher mereformasi negerinya alhasil  tingkat pengangguran di Inggris turun dari 13% menjadi 5,7%. Kemudian setelah privatisasi BUMN, perusahaan tersebut mampu bangkit dengan cepat.

Bahkan saat ekonomi seluruh negara Eropa tengah lesu, Inggris justru tetap tegak dan menjadi salah satu yang terbaik. Semua itu berkat sistem kapitalisme dan ekonomi pasar yang diterapkan secara tuntas selama 11 tahun masa pemerintahan Thatcher, sehingga fondasi negeri itu menjadi kokoh.[W1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here