MATAKIN Imbau Keberadaan Patung Kwan Seng Tee Koen Tidak Dipolitisasi

Wisatawan berfoto di dekat patung Kwan Seng Tee Koen. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengimbau agar keberadaan  Patung Yang Mulia Kongco Kwan Seng Tee Koen, di kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur tidak dipolitisasi.  Pembangunan patung yang terletak dalam lingkungan Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban dan tak terlihat dari luar tersebut tak ada kaitannya dengan politik, murni masalah spiritualitas dan keteladanan yang diajarkan dalam agama.menyikapi polemik.

Imbauan ini disampaikan dalam keterangan tertulis MATAKIN di Jakarta, Rabu (9/8/17), menyikapi polemik leberadaan patung setinggi 30 meter itu. Dijelaskan, Kwan Seng Tee Koen atau Shen Ming Kwan Kong dihormati dan diteladani umat Khonghucu karena setia pada janji dan menjunjung tinggi kebenaran, bukan karena keahlian berperang.

Lebih lanjut  MATAKIN mengimbau agar dilakukan silaturahmi yang lebih intens dengan masyarakat sekitar, tokoh agama dan tokoh masyarakat, untuk menjelaskan persoalan yang ada tanpa ada upaya-upaya politisasi karena tak ada kaitan dengan masalah kepahlawanan nasional, tapi murni agama.

Bila ada persoalan administratif, MATAKIN meminta agar dapat diselesaikan karena hal tersebut menyangkut keagamaan yang mengacu pada aturan-aturan keagamaan. Dan, menurut MATAKIN merupakan kewajiban pemerintah untuk melindungi dan melayani umat beragama secara adil.

MATAKIN, yang merupakan lembaga resmi yang menaungi umat Khonghucu Indonesia, berkeyakinan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran dan saling menghargai antara etnis, agama suku dan golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan falsafah Pancasila.

“Kami yakin nilai-nilai ini masih dipegang teguh oleh bangsa Indonesia,” demikian MATAKIN.

Sebelumnya Generasi Muda Khonghucu Indonesia  menentang pembangunan Patung Guan Yu Chang yang bergelar Kwan Seng Tee Koen di dalam Kelenteng Tuban.

Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org) Kris Tan, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (6/8/17), menyatakan pembangunan patung di dalam Kompleks Kelenteng Tuban merupakan sikap yang tidak peka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Tuduhan yang beredar bahwa itu diprakarsai oleh umat Khonghucu adalah sebuah kekeliruan dan fitnah besar bagi penganut Khonghucu,” katanya.

Dalam tradisi ajaran leluhur Tionghoa, paparnya, sama sekali tidak dikenal doktrin membangun ikon patung yang megah dan absurd yang bahkan menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam tradisi Khonghucu, lanjutnya,  yang menjadi substansi religiusitas dan spiritualitas seseorang adalah bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati.

“Melainkan itu harus diejawantahkan dalam mencontoh prilaku dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong) yang kebetulan memang figur yang dianggap sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren, dan Yong yaitu Kebijaksanaan, Cinta kasih, dan Kebenaran,” katanya.

Fenomena pengkultusan yang berlebihan, ujarnya, justru telah menodai doktrin utama ajaran leluhur Tionghoa yang menyatakan “Tiada tempat lain meminta doa kecuali kepada Tian Tuhan Yang Maha Esa”.

“Maka Generasi Muda Khonghucu Indonesia gemaku.org mengimbau dan mendesak pihak Kelenteng Tuban untuk segera membatalkan rencana atau membongkar patung tersebut karena sama sekali tidak sesuai dengan prinsip tradisi etnis Tionghoa yang mengedepankan kemanusiaan dan cinta kasih. Dan dari pada mencederai kehidupan berbangsa maka sebaiknya segera patung tersebut dibongkar saja,” katanya.[JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here