Maukah Berubah?

Belakangan ini ada beberapa topik pembicaraan yang ramai dibahas masyarakat. Bahkan di media pun juga diberitakan masalah-masalah yang memang menarik untuk disimak, sebut saja revisi UU KPK, yang sudah beberapa bulan ini menjadi pro-kontra.
Ya… yang namanya politisi di Senayan semakin ramai dibicarakan orang, maka mereka semakin menjadi dalam memanfaatkan momen ini untuk, katanya kepentingan negara, tetapi sesungguhnya mungkin untuk kepentingan pihak-pihak tertentu atau partai masing-masing. Hanya saja, mereka tidak mau mengakui akan hal ini.
Selain makin panasnya pembahasan revisi UU KPK, beberapa hari ini muncul topik lama (pertikaian internal Partai Golkar) yang dikemas baru (Munas Partai Golkar untuk memilih ketua umum baru). Kemudian ada juga ajakan Wakil Ketua Umum PPP hasil Muktamar Bandung, Emron Pangkapi, supaya Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta, Djan Faridz untuk duduk bersama, guna mengakhiri konflik internal.
Kemudian yang tidak kalah menariknya adalah soal protes atau kritikan ke pemerintahan lama sebelum di era Presiden SBY. Belum lagi muncul topik seperti LGBT yang juga memiliki arti sendiri di mata masyarakat.
Semua topik itu, memang bukan hal baru. Artinya tema-tema yang diusung media seperti konflik Partai Golkar, pertikaian internal PPP, LGBT, dan soal pemerintahan SBY sudah ada sejak lama. Yang menjadi pertanyaan, mengapa persoalan-persoalan ini tidak pernah tuntas atau selesai. Apakah persoalan ini menjadi komoditi politik para pihak yang bertikai, atau hanya ingin mencari popularitas semata.
Tampaknya alasan apa pun yang muncul, tentunya akan tetap akan dinilai masyarakat. Masyarakat justru akan semakin bertanya-tanya, mengapa persoalan yang muncul itu menjadi berlarut-larut, apakah para tokoh politik di partai-partai itu, atau pendapat tentang pro dan kontra revisi UU KPK, misalnya, sengaja berlama-lama berkutat dalam pertikaian.
Yang jelas, persoalan-persoalan yang muncul itu mencerminkan bahwa banyak pihak tidak pernah berpikir secara dewasa dalam mengatasi masalah itu. Lalu apakah para tokoh yang terlibat konflik yang ada tersebut mau dan pernah berpikir dewasa. Sulit menjawabnya, yang bisa menjelaskan hanya mereka sendiri. Itu juga kalau mereka mau jujur.
Sulit memang berbicara secara jujur. Untuk bisa berbicara jujur diperlukan kemauan, artinya mau membuka diri, mau berterusterang, dan mau bercermin siapa diri kita sebenarnya. Yang tidak kalah penting adalah ketulusan diri sendiri untuk mengakui bahwa kita bersalah, dan kita tebuka untuk dikritik.
Perlu dipahami adalah masyarakat akan belajar dari masalah yang terjadi itu. Sekarang masyarakat bisa lebih cerdas untuk menilai persoalan. Artinya mereka sudah dapat memetik pelajaran apa yang bermanfaat dari persoalan yang muncul itu. Karena itu, sebagai politisi atau tokoh yang selalu disorot masyarakat, mau dengan jujur memberi contoh baik dalam berpikir, bertindak, dan berbicara.
Jangan sampai konflik atau kritikan yang disorot masyarakat itu menjadi contoh buruk. Mungkin sudah banyak sorotan negatif tentang persoalan-persoalan yang sudah disebutkan itu. Nah sekarang mau atau tidak memberi contoh yang baik pada masyarakat? Mau atau tidak mendidik masyarakat dengan hal-hal positif? Mau atau tidak menjadi teladan bagi masyarakat.
Jangan sampai sebagai politisi, tokoh, atau anggota DPR sekalipun, selalu dicap negatif oleh masyarakat. Logikanya, tentu kita tidak ingin melulu dinilai negatif dan dicemooh secara terbuka. Karena itu, harus ada kemauan untuk berubah, belajar dan menjadi teladan bagi orang lain. Janganlah nilai-nilai itu dilupakan. Masyarakat pun mungkin memahami bahwa mereka-mereka itu sadar dan dalam hati masing-masing memiliki nilai-nilai itu, tetapi masalahnya mau atau tidak menerapkannya untuk kepentingan yang lebih luas yaitu masayarakat negeri tercinta ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here