Media Sosial dan Kita

Oleh : Iman Sjahputra

Dunia media sosial saat ini sudah bukan barang baru lagi di masyarakat yang sudah melek teknologi modern. Bahkan kini orang cenderung hidup tanpa berinteraksi dengan maupun menggunakan media sosial, seakan-akan hidup ini menjadi “kosong”.

Segala sesuatu yang dikerjakan paling tidak harus menggunakan media sosial, tidak heran bila mulai dari keberhasilan, kesusahan, keberuntungan, naik jabatan, ribut dengan pacar, galau atau persoalan lain, selalu ditumpahkan di media sosial.

Bahkan tidak sedikit perselisihan politik antar pendukung partai, pendukung calon gubernur, calon bupati tidak lepas menggunakan media sosial untuk mensukseskan program. Tapi tidak sedikit saling caci maki antarkalangan pendukung. Sungguh luar biasa.

Seakan-akan media sosial ini menjadi saluran yang paling mudah untuk mencurahkan isi hati. Tapi jangan salah, konsekuensinya curhatan isi hati ini menjadi konsumsi masyarakat luas. Tidak sedikit  masyarakat  akhirnya tahu persoalan si pengguna media sosial itu. Dan tidak sedikit pula masyarakat yang membaca dan mengomentarinya.

Apalagi menjadi tren yang dibicarakan banyak orang di belahan bumi ini, alias viral, begitu istilah modernya, semakin  popular pula si tokoh di balik curhatan tersebut.

Dengan kata lain kini  sudah menjadi kegilaan dan gaya hidup hidup modern di bumi ini untuk menggunakan media sosial.  Karena begitu modernnya mengikuti gaya hidup ini sampai-sampai kita temua orang bunuh diri pun menyiarkan langsung melalui media sosial.

Beberapa  bulan lalu, tepatnya di tahun 2016, seorang pria berusia 22 tahun di Turki mengakhiri hidupnya dengan memperlihatkan melalui media sosial secara live. Latar belakang bunuh diri ini, karena pacarnya memutukan hubungan mereka. Jalan pintas ya..bunuh diri.

Nah kini di negara kita tercinta ini beberapa hari lalu juga tersiar peristiwa seperti itu.

Adalah pria bernama Indrawan bunuh diri dengan tali gantungan di rumahnya. Menurut cerita dia memutuskan mengakhiri hidupnya karena istrinya yang  dinikahi selama 17 tahun, dan dikaruniai 5 anak,   meninggalkan Indrawan.

Sebelum bunuh diri dia sempat menulis pesan tentang beban hidupnya sama seperti pria yang juga bunuh diri di Turki.

Yang sangat menyedihkan sebenarnya adalah mengapa mereka harus menggunakan media sosial untuk memperlihatkan cara mereka bunuh diri? Apakah media ini ampuh untuk menarik simpati?

Ternyata mungkin bagi sebagian orang hal ini tidak patut dilakukan dan tidak patut pula dicontoh. Sekali lagi media sosial sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini. Semestinya apa pun yang kita lakukan tidak sepatutnya pula menggunakan media sosial.

Ratusan ribu, mungkin jutaan orang melihat bagaimana Indrawan mengakhiri hidup mereka.  Masyarakat menyaksikan adegan demi adegan kematian mereka, walaupun akhirnya Kominfo mengeluarkan edaran untuk tak menyebarkan video bunuh diri itu dan menghapusnya, tetapi aksi tersebut sudah terekam dalam pikiran kita.

Betapa media ini memberi peran penting dalam setiap kehidupan kita. Memang kita harus lebih dewasa untuk memanfaatkan media ini. Medis sosial ini bisa menjerumuskan, namun bisa juga menguntungkan. Tinggal kita saja masing-masing ingin memilih yang mana.

Memilih dan memilah hal-hal yang bisa dimuat di dalam media sosial membutuhkan kedewasaan dalam berpikir. Tampaknya kita sudah harus semakin dewasa pula sebelum memutuskan menggunakan media sosial ini. Kita pun tidak bisa mengharapkan pemerintah untuk bertindak cepat dan tegas mengenai pengguna media sosial ini.

Semua harus kembali kepada diri kita masing-masing lebih bijak menggunakan teknologi baru dengan lebih bertanggungjawab. Sebab  apa pun yang kita lakukan melalui media sosial ini, dapat dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan jutaan orang di segala usia bisa melihatnya.

Harus jelas pula maksud dan tujuan menggunakan media sosial ini. Pengguaan media ini bukan sekadar teknologi modern semata, tetapi diharapkan kita menjadi contoh bagi siapa saja yang melihat isi media sosial kita. Apakah kita mau menjadi teladan yang dipuji orang atau yang dicaci maki. Semua ada di tangan kita masig-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here