Memadukan Arsitektur Modern dan Kuno

Kuil Deyouguan baru (Foto: JX/chindaily)

BEIJING, JIA XIANG – Merancang sebuah kuil berbeda dengan sebuah rencana  untuk mendirikan kompleks perumahan. Dalam merancang kuil, Anda harus juga membayangkan bahwa Tuhan hidup di sana, kata Tao Jin, arsitek yang tinggal di Beijing, Cina.

Tao (33 tahun) bekerja pada Lembaga Desain Arsitektur dan Penelitian Universitas Tsinghua di Beijing. Dia memiliki spesialisasi dalam merancang bangunan keagamaan setelah proyek pertamanya – Kuil Tao Deyouguan di Gunung Maoshan, Provinsi Jiangsu. Ternyata dengan bangunan kuil itu dia menjadi begitu sukses.

Dia juga memenangkan sebuah penghargaan dari majalah Bauwelt, Jerman, untuk desain baru kuil itu.  Bentuk asli kuil itu, yang dibangun selama era Dinasti Yuan (1271-1368),  telah dihancurkan oleh tentara Jepang  ketika menyerang Cina selama perang tahun 1937-1945.

Tao, mengatakan desain bangunan keagamaan di negara-negara Timur dan Barat, dan di berbagai agama  lainnya pada dasarnya sama.

“Metaforanya adalah bahwa Tuhan tinggal di sana, dan Anda harus menunjukkan pertimbangan teologis Anda melalui desain bentuk, ruang dan suasana,” kata Tao. “Kita juga harus mengerti, khususnya arti tempat suci di dalam kuil itu.”

Kuil Deyouguan pada tahun 1923 (Foto: JX/Chinadaily)
Kuil Deyouguan pada tahun 1923 (Foto: JX/Chinadaily)

Sementara itu, disain bangunan itu harus juga mempertimbangkan kebutuhan tempat tinggal para pendeta di biara atau juga kuil. “Jika kita mendisain biara untuk tempat tinggal 20 pendeta, kita harus mempertimbangkan berapa banyak kamar tidur dibutuhkan. Juga seberapa besar kamar penyimpanan dibutuhkan dan bagiaman juga dengan truktur saluran-saluran air, pemanas, dan listrik.”

Dalam mendisain Kuil Deyouguan baru, Tai tidak merestorasi kuil itu menjadi seperti bentuk asli. Tetapi untuk membangun kembali kuil itu, dia mencoba untuk menggabungkan dua pemikiran tentang disain orisinal dan konsep arsitektur modern.

“Tidak mungkin menrancang dan membangun kuil sama seperti awal pembangunannya. Tidak peduli seberapa besar upaya dilakukan, mereka harus tetap terlihat seperti replika,” ungkap Tao sambil menambahkan bahwa dia cenderung memelihara situs asli kuil itu, dan membangun yang baru dengan rancangan yang meminjam ide dari bentuk kuil lama.

“Dengan cara, maka akan ada interaksi antara kuil baru dengan yang lama,” ujarnya.  Namun bagi Tai dan koleganya, dilemanya biasanya terletak pada banyak pemuka agama memiliki kesukaan sendiri supaya kuil terlihat antik dan replika mewah dari bangunan kuno.

Di Wuzi, Provinsi Jiangsu, pemerintahannya telah mengeluarkan 1,6 juta yuan atau 240 juta dollar AS untuk mengembangkan kemewahan Istana Fan Gong, tempat digelarnya Forum Buddha Dunia tahun 2009 dan 2015. Ada jugua sedikitnya enam patung Buddha setinggi 50 meter hingga 100 meter di beberapa tempat di Cina.

“Mereka seperti patung Buddha dalam ukuran raksasa, dan dekorasi besar kuil-kuil  dengan warna mewah. Semakin terlihat antik kuil itu, semakin bagus,” ujar Tao.

Kini di Cina,  orang semakin terlihat “lapar” membangun replika, sebab dipicu oleh teknologi modern yang memungkinkan orang berkreasi lebih besar lagi dari segi struktur. [JX/chinadaily/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here