Memahami Kembali Budaya Bangsa

Oleh: Iman Sjahputra

Di negeri kita ini tampaknya  terjadi salah pikir bagi sebagian orang.  Jadinya serba salah. Kita berbuat baik, salah. Tidak berbuat baik, lebih salah lagi.  Seakan-akan kita harus mengikuti apa yang menjadi keinginan orang-orang tertentu, hanya untuk memuaskan kemauan mereka.

Bahkan dalam mewujudkan keinginan mereka, digelarlah berbagai aksi, yang paling mudah unjuk rasa-turun ke jalan. Salah satu hal yang menarik terkait unjuk rasa ini adalah pada May Day. Setiap tanggal 1 Mei, yang dikenal sebagai Hari Buruh Internasional, selalu diikuti dengan aksi unjuk rasa ribuan buruh, biasanya menuju Jakarta, menuntut pemerintah memenuhi keinginan mereka terkait soal upah maupun kebijakan terkait perburuhan.

Ada hal yang menarik pada aksi unjuk rasa kemarin, Senin (1/5/17), di Jakarta yaitu aksi tersebut diwarnai dengan  pembakaran puluhan karangan bunga yang sebenarnya ditujukan untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat.

Aksi seperti ini tampaknya terlihat janggal. Secara logika, apa hubungannya aksi unjuk rasa buruh dengan karangan bunga yang sebenarnya adalah ungkapan terima kasih berbagai kalangan di Jakarta kepada gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang masih menjabat ini.

Kita pun bertanya-tanya, apa salahnya bunga-bunga itu? Apakah bunga-bunga itu mengganggu aksi mereka? Apakah bunga-bunga itu menjadi penyebab upah mereka terabaikan? Dan mungkin masih ada puluhan pertanyaan lagi yang bisa dilontarkan terkait aksi tidak terpuji para pengunjuk rasa tersebut.

Entah aksi unjuk rasa buruh ditunggangi pihak-pihak tertentu yang membenci gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, atau memang sudah sejak awal aksi pembakaran ini dirancang.  Entahlah, yang pasti kita akan pusing sendiri memikirkan tindakan yang tidak bertanggungjawab tersebut.

Yang menjadi catatan, pertama,  sebenarnya adalah unjuk rasa tersebut jelas sudah menyimpang dari rencana sebenarnya.  Apalagi tindakan tidak terpuji sudah diperlihatkan mereka, membakar karangan bunga, yang tidak ada hubungannya dengan aksi mereka. Kedua, tampaknya  pengunjuk rasa tidak memperlihatkan rasa hormat dan menghargai pada orang-orang yang telah memberikan bunga-bunga tersebut.

Pertanyaannya, kalau mereka tidak memperlihatkan rasa hormat  pada orang lain, apa sepantasnya mereka dihormati pula. Hal ini bukan berarti harus siapa dulu yang menghormati, tetapi aksi yang bersifat massal, terbuka, dan luas, telah memperlihatkan tindakan tidak terpuji.

Kita ini hidup di negara yang kaya budaya dan norma-norma kehidupan bersama.  Artinya di situ ada rasa saling menghargai, hormat-menghormati, saling bantu, gotong-royong, saling  mencintai terhadap sesama manusia dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.  Maka sewajarnyalah nilai dan norma-norma itu diperlihatkan, bukan sebaliknya kebencian, kekurangan, dan nilai-nilai negatif lainnya.

Tampaknya kita sebagai warga bangsa ini harus kembali belajar dan mempelajari nilai dan norma, serta budaya bangsa kita sendiri.  Tanpa ada keinginan untuk menghargai norma dan budaya bangsa sendiri, maka sampai kapan pun tidak akan muncul rasa cinta pada bangsa dan negara sendiri.  Ketiadaan rasa cinta ini justru membuka peluang munculnya bibit-bibit kebencian, yang sampai pada tahap tertentu,  akan mampu mengubah cara pandang bangsa kita dan berujung pada kehancuran.

Semua hal yang baik bisa diputarbalikan menjadi kebencian, cinta menjadi kebencian, kasih sayang menjadi kemarahan, gotong-royong menjadi egois, dan sebagainya dan sebagainya.  Karena itu, jangan pernah kita memberi peluang munculnya rasa benci di setiap hati bangsa kita.  Kebencian ini membuat hidup kita mundur sekian ratus tahun ke belakang, dan akhirnya membuat kita kembali hidup  ke dalam zaman batu.

Jadi cobalah kita memahami dan mendalami kembali hormati nilai, norma-norma dan budaya luhur bangsa kita yang sudah tumbuh dan berkembang sejak lama. Ini semua bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk kehidupan dan kemajuan bersama kita sebagai sebuah bangsa dan negara yang besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here