Memaknai Demokrasi Kita

Oleh: Iman Sjahputra

Ada hal yang menarik disimak ketika Presiden Joko Widodo menghadiri Pengukuhan Pengurus DPP Partai Hanura Periode 2016-2020 di Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (22/2/17)  lalu. Pada kesempatan berbicara di hadapan para peserta yang hadir, presiden sedikit mengajak semua untuk menelisik kondisi demokrasi yang ada di negeri ini.

Bahkan dengan tegas Presiden juga menyebutkan bahwa demokrasi di negara ini sudah kebablasan. Bukan cuma kebablasan, tetapi juga  memperbesar peluang untuk munculnya praktik yang kita lihat selama ini seperti radikalisme, terorisme, dan liberalisme. Tentunya peluang itu terbuka juga untuk praktik-praktik yang mengarah kepada langkah bertentangan dengan Pancasila.

Memang ini bukan sebuah gambaran semu, tetapi semua tahu bahwa kondisi belakangan ini justru mencerminkan hal-hal yang telah digambarkan itu. Dampak dari kondisi ini muncul kekhawatiran. Ini bukan alasan yang dibuat-buat, tetapi justru kenyataan yang kita lihat dan alami dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan negara.

Secara teori,  orang memaknai  demokrasi sebagai sebuah bentuk pemerintahan, sistem politik, dan sikap hidup. Dengan kata lain, dalam perkembangannya demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai bentuk pemerintahan, sistem politik, tetapi juga sebagai sikap hidup. Sebagai bentuk pemerintahan dan  sistem politik,  maka lebih banyak tertuju pada tingkat pemerintahan atau kenegaraan. Namun, demokrasi tidak cukup di tingkat kenegaraan, tetapi memerlukan sikap hidup demokratis yang tumbuh dalam diri penyelenggara negara maupun warga negara pada umumnya.

Yang pasti demokrasi tidak datang dengan sendiri dalam kehidupan bernegara. Tetapi secara logika tumbuh dan berkembang dari dalam budaya yang kondusif pada kehidupan kita.  Dan tentunya memiliki tujuan, yaitu menciptakan kesejahteraan bersama.

Dengan demikian mendudukan demokrasi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, harus dipandang sebagai langkah membangun kepentingan bersama secara keseluruhan. Tentu ini adalah cita-cita luhur, sebab bukan kepentingan orang-per orang atau, segelintir dan sekelompok orang, tetapi seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Untuk itulah kehidupan demokrasi ini harus dijaga dan diletakan di posisi yang sebenarnya. Janganlah demokrasi itu ditarik ke sana, atau ke sini, sehingga membuka peluang, seperti yang digambarkan Presiden Joko Widodo yaitu praktik-praktik seperti  radikalisme, terorisme, dan liberalisme.

Artinya sekarang bahwa kita semua patut menjaga agar praktik-praktik demokrasi di negeri kita ini berjalan di jalur yang tepat.  Tidak sepatutnya demokrasi dipakai sebagai alat untuk membela kepentingan sendiri, yang sekaligus menyebut  “demokrasi” ala kepentingan sendiri yang sering bertentangan dengan kepentingan yang lebih besar.

Jadi, sudah bukan saatnya lagi kita memberi peluang kepada praktik demokrasi yang melenceng. Tetapi demokrasi yang tumbuh dan berkembang berdasarkan Pancasila. Di sinilah terdapat makna demokrasi yang sangat dalam, bukan hanya mengingatkan kita cara kita berhubungan dengan sang pencipta, tetapi juga terhadap sesama, termasuk dengan negara. Inilah makna demokrasi yang harus dijaga oleh kita bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here