Membangun Kebudayaan Nasional

Oleh: Iman Sjahputra

Presiden Joko Widodo mengharapkan pembangunan kebudayaan nasional mendapat tempat khusus. Dan langkah ini harus direalisasikan.  Karena itu, Presiden pun meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir  Effendy untuk menindaklanjuti langkah tersebut.

Menurut Mendikbud, kebudayaan idealnya memayungi seluruh sektor yang mengarah pada Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudaya­an. Tampaknya Presiden juga ingin supaya Mendikbud menindaklanjuti dan mewujudkan hasil pertemuan Presiden dengan para pegiat seni, seperti produser, sutradara, dan pemain film, juga presenter.

Karena itu, Mendikbud menggodok rumusan kebudayaan dengan matang. Dan tentu ujung-ujungnya  akan masuk ke dalam kurikulum yang salah satunya mencantumkan materi kesusastraan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para siswa tampaknya akan dilatih untuk berekspresi, membuat puisi, diajak berimajinasi. Dengan kata lain, anak akan didorong bersastra.

Tekanan lain dari upaya tersebut adalah program penguatan karakter juga akan mencakup materi kebudayaan, kesenian, budi pekerti, dan olahraga. Materi-materi tersebut akan dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler.

Sebenarnya persoalan program pembangunan kebudayaan sudah beberapa tahun belakangan ini dianggap penting, cuma persoalannya tidak pernah mendapat perhatian khusus. Kalau tidak pernah diperhatikan, berarti pembangunan kebudayaan atau kebudayaan itu sendiri masih dianggap tidak penting untuk menunjang pembangunan bangsa dan negara secara keseluruhan.

Kalau memang penting, maka sepatutnya, pembangunan kebudayaan bukan semata dilihat melalui berbagai mata ajaran di sekolah saja. Tetapi juga harus dimulai dari rumah. Dari komunitas dan lingkungan yang paling kecil. Akan percuma, bila segala usaha dan upaya selalu digencarkan dari sekolah, sementara kembali ke rumah siswa menghadapi kondisi yang sangat berbeda.

Kebudayaan sebenarnya bukan semata, terkait dengan seni, tetapi ada unsur lain seperti nilai, kepribadian, bahasa, pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan religi. Artinya, unsur-unsur itu secara tidak langsung ada di dalam semua materi pelajaran di sekolah. Tetapi  apakah ada keberlanjutan di rumah?

Padahal yang namanya pengetahuan, pemahaman atau apa pun terkait dengan budaya, harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Nah kalau rantai pendidikan dan pembelajaran soal budaya putus di rumah, maka akan putus pula pemahaman utuh tentang budaya itu. Lalu apa yang bisa dilakukan sekolah? Yang jelas, semua yang diterima di sekolah tidak akan sempurna. Tidak sia-sia, tetapi tidak sempurna.

Karena itulah, maka pemahaman kehidupan untuk lebih berbudaya, dan mampu mengembangkan kebudayaan, sepatutnya  tidak sepihak, dari sekolah saja, tetapi juga dilakukan di rumah. Para orangtua pun harus bisa menyadari betapa pentingnya  nilai-nilai kehidupan, yang menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan.  Orangtua adalah pihak yang memang sangat berperan membangun karakter dan kepribadian anak sebagai landasan utama bagi pengembangan diri selanjutnya.

Jadi jangan berharap pembangunan kebudayaan secara nasional dapat berhasil, tanpa dimulai dari unsur yang paling kecil yaitu keluarga. Keluarga adalah pilar utama dalam pendidikan anak yang dimulai dari rumah, sementara sekolah dapat dikatakan pelengkap untuk membekali anak dalam penguasaan ilmu pengetahuan di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here