Membangun Kepercayaan Rakyat

Pelaksanaan pemilihan umum 2014 tinggal sekitar dua bulan lagi. Persiapan segalanya sudah dilakukan oleh penyelenggara pesta demokrasi di negeri ini, Komisi Pemilihian Umum (KPU). Bukan hanya penyelenggara yang siap, para pelaku di tingkat partai, pengawas, dan pihak keamanan pun sudah bersiap melaksanakannya.
KPU siap dengan segala perangkatnya seperti surat suara dan kotak surat suara. Bahkan setiap parpol peserta pemilu pun sejak awal sudah siap dengan para calonnya,  termasuk saksi-saksi yang akan memantau setiap Tempat Pemungutan Suara. Bahkan aparat keamanan pun juga telah siaga. Mereka juga sudah menggelar latihan beberapa kali menghadapi keadaan yang tidak diinginkan.
Mungkin yang perlu diamati adalah para pemantau swasta atau pihak asing. Mungkin mereka sudah bersiap juga menggelar pemantauan jalannya pemilu ini. Dan seperti biasa, berbagai pihak yang menggelar penghitungan cepat hasil pemilu pun sudah siaga. Walau pun mereka ini di luar jangkauan resmi pihak penyelenggara pemilu, tapi yang pasti mereka sudah lebih dulu siap.
Jadi secara keseluruhan mungkin  kesiapsiagaan banyak pihak ini, sudah mencapai 80 persen.  Hanya sekarang yang perlu ditinjau juga, apakah masyarakat yang memiliki hak pilih juga sudah siap secara mental dan spiritual? Kalau mereka katakan siap, pasti banyak yang menjawab siap. Begitu juga sebaliknya, bila ditanya  apakah tidak siap, mungkin lebih banyak lagi yang menjawabnya.
Artinya peluang-peluang masyarakat untuk tidak pergi ke bilik-bilik tempat pemungutan suara, sangat besar. Enta apa yang melatarbelakangi keenganan mereka, yang pasti masih menimbang-nimbang pilihan. Semakin lama pertimbangan itu, maka peluang untuk tidak memilih pun tampaknya makin besar. Walau pun angka pasti soal ini pun belum ada, karena survei lembaga-lembaga tertentu, kemungkinan juga “pesanan” pihak-pihak tertentu.  Gonjang-ganjing ketidakpercayaan hasil survei ini bukan hal baru di masyarakat. Artinya masyarakat pun sudah bisa memilih dan memilah informasi.
Keraguan dan ketidakpercayaan ini ada alasan. Salah satu indikatornya adalah banyaknya para pejabat atau politisi negara ini yang bermasalah dengan hukum, mulai dari gubernur, wakil gubernur, bupati dan wakilnya, sampai pada walikota dan wakil walikota, termasuk pejabat tinggi negara dan “penghuni”  gedung atap melengkung di Senayan.
Jadi, keraguan ini harus dihilangkan, dan tidak boleh berlarut-larut. Caranya bagaimana? Pendidikan politik? Pendidikan poliitik seperti apa? Pemerintahlah yang tahu soal itu. Yang penting masyarakat harus  diyakinkan agar  tetap mau menggunakan hak suara mereka. Tapi ini juga  tidak mudah, karena masyarakat sendiri melihat kebobrokan para petinggi dan politisi negeri ini yang justru “menghancurkan” negaranya sendiri.  Ini bukti dari merosotnya etika dan moralitas politik masa kini. Lebih mementingkan diri sendiri dan partai, ketimbang rakyatnya.  Orang-orang seperti ini, masih saja mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Kemudian, kita atau masyarakat, harus memilih siapa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here