Membebaskan WNI di Filipina

Sampai saat ini upaya pemerintah Indonesia untuk membebaskan 10 ABK yang disandera kelompok separatis Abu Sayyaf belum membuahkan hasil. Sudah sekitar satu bulan lebih, segala upaya, pendekatan maupun cara supaya pemerintah Filipina membuka pintu bagi Indonesia ikut membebaskan sandera itu juga tidak ada tanda-tanda positif akan terkabul.

Bagi masyarakat awam, entah cara apalagi yang harus dilakukan, supaya nyawa para sandera itu, tidak bernasib buruk seperti seorang sandera warga negara Kanada yang dibunuh oleh para pemberontak itu.

Tentu kita semua, sebagai bagian dari negeri tercinta ini, juga berharap agar tidak ada hal buruk yang menimpa para sandera. Yang sangat kita harapkan adalah upaya pemerintah bisa berhasil. Mungkin ada cara lain yang bisa digunakan sebagai langkah berikutnya. Entah itu menggunakan jalur diplomatik dengan menggalang kekuatan bersama negara lain yang warga negaranya disandera, atau meminta bantuan para milisi di Filipina, yang katanya berutang pada pemerintah Indonesia, atau tokoh-tokoh setempat yang memiliki ikatan batin dengan Indonesia di masa lampau.

Bila diperhatikan memang terasa aneh juga, mengapa pemerintah Filipina begitu menahan-nahan diri untuk tidak melibatkan Indonesia dalam operasi pembebasan para sandera.  Mungkin ada upaya yang ditutup-tutupi pemerintah Filipina dalam menggelar operasi tersebut.

Sebenarnya mudah saja bagi Filipina yang memiliki hubungan sangat-sangat dekat dengan Amerika Serikat. Tinggal minta negeri itu, untuk menggelar operasi militer besar-besaran, tanpa atau dengan jatuh korban di pihak para sandera. Kalau Filipina berani menghadapi negara raksasa seperti Tiongkok dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan,  dengan dukungan penuh Amerika Serikat, lalu mengapa menghadapi kelompok sempalan seperti Abu Sayyaf tidak sehebat mengahadapi Tiongkok?

Pertanyaan berikutnya, mengapa sikapnya seperti itu? Mengapa operasi militer yang dilakukan beberapa minggu lalu, hanya berhasil menewaskan anggota Abu Sayyaf tanpa mengetahui posisi dan keberadaan para sandera? Kalau begitu seperti apa operasi militer yang mereka lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini menggelitik kita. Apa sesungguhnya yang dilakukan oleh negeri itu dalam mengatasi persoalan Abu Sayyaf yang sudah puluhan tahun tak pernah tuntas.  Kalau begitu mungkin saja keberadaan kelompok pemberontak dan konflik dengan Tiongkok dijadikan ajang “bahan permainan” untuk tetap mendapat dukungan, termasuk finansial, dari  Amerika Serikat.

Dalam kondisi seperti ini, maka pemerintah Indonesia tinggal menunggu dan berharap saja, perundingan dan pendekatan diplomasi yang dilakukan selama ini diperhatikan dan dihargai oleh Filipina atau tidak.  Memang eranya berbeda. Dulu Indonesia masih sebagai kekuatan yang diperhitungkan di tingkat ASEAN. Apalagi Indonesia dianggap sebagai saudara tua yang patut didengar pandangan dan pendapatnya. Tapi kini, tentu tidak seperti zaman dulu. Artinya, pemerintah Indonesia harus mampu mengembalikan pamor tersebut. Pamor sebagai bangsa besar dari segi moral maupun posisi strategi dalam perjalanan sejarah organisasi di kawasan Asia Tenggara itu.

Ini bukan persoalan mudah, diperlukan perjuangan panjang dan yang pasti “peluh” bercucuran.  Karena itulah pendekatan diplomasi dan militer dalam mengatasi pembebasan WNI yang disandera Abu Sayyaf ini menjadi ujian besar dalam mengembalikan pamor dan kewibawaan kita sebagai bangsa besar di Asia Tenggara.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here