Membuat Jakarta Lebih Baik

Jakarta, sebagai ibukota negara mengemban sejumlah predikat. Paling tidak Jakarta harus menjadi kota yang bersih, rapi, hijau, sehat, nyaman, dan benar-benar layak dihuni dan dikunjungi oleh tamu dari negara lainnya.

Tidak mudah mengemban predikat itu, sebab untuk memecahkan persoalan, misalnya banjir, kemacetan, penghijauan, keamanan, anak jalanan dan putus sekolah, dan beragam persoalan lainnya. Dibutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit untuk menuntaskan masalah itu. Memang mudah menerapkan kebijakan yang ditetapkan, tetapi tidak mudah mengubah cara pandang warga terhadap persoalan itu, apalagi mereka dianjurkan  untuk hidup bersih, sehat, dan tertib.

Di musim penghujan ini, akan semakin terlihat wajah Jakarta yang sebenarnya. Apa dan bagaimana kota ini, di musim penghujan inilah bisa kita saksikan. Kita akan melihat banyak genangan, banjir, kemacetan dan rusaknya berbagai fasilitas umum. Belum lagi kondisi saluran air, termasuk pengolahan air limbah, mulai dari di lingkungan perumahan, di tingkat yang kumuh hingga rumah mewah, semua akan terlihat dalam wajah yang sesungguhnya.

Kita juga bisa menebak seserius apakah Pemerintah DKI Jakarta memperhatikan kondisi lingkungannya. Tidak salah bila beberapa waktu lalu Asosiasi Toilet Indonesia menilai bahwa sistem sanitasi di Jakarta menjadi salah satu yang terburuk di negeri ini. Sebagai sebuah kota besar, Jakarta seharusnya  memiliki sistem sanitasi yang baik termasuk pengolahan dan pembuangan limbah.

Tak usah membandingkan sistem sanitasi Jakarta dengan negara lain, di dalam negeri sendiri sudah jauh tertinggal. Bila dibandingkan dengan negara lain, tentu lebih jauh tertinggal.
Bahkan bulan lalu Wakil Gubernur DKI  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun menyebutkan bahwa Jakarta merupakan provinsi terjorok dalam mengelola limbah. Itulah kenyataan yang terjadi di ibukota tercinta ini.

Tampaknya pemerintah DKI serius mengatasi masalah ini. Sama dengan persoalan lain di Jakarta, pemerintah DKI selalu bersungguh-sungguh memperbaiki kondisi itu. Bila perlu Jakarta zero waste. Karena itu, direncanakan pembangunan pusat-pusat pengolahan limbah cair yang dikerjakan tahun depan. Menurut Bappenas dibutuhkan Rp125 triliun untuk membangun pusat-pusat pengolahan limbah kerjasama pemerintah DKI dan pusat.

Yang perlu diingat adalah sehebat apa pun rencana pembangunan itu, bila tanpa melibatkan masyarakat di semua lapisan, maka proyek itu tidak akan berjalan baik. Kuncinya memang ada pada keterlibatan masyarakat. Artinya masyarakat harus disadarkan akan hidup bersih dan sehat. Caranya? antara lain bisa dengan menggelar kegiatan kampanye hidup sehat mulai dari tingkat pusat hingga ke pelosok Jakarta.

Sosialisasi bertahap dan berjenjang tentang hidup sehat, sudah harus dimulai sejak dini, tanpa harus menunggu proyek pengolahan limbah itu berjalan. Menanamkan pengertian hidup sehat, tampaknya juga menjadi kendala terbesar. Menanamkan pola hidup sehat ini sepatutnya dimulai dari dalam rumah tangga, di lingkungan RT/RW, sekolah, tempat ibadah, dan pusat-pusat kegiatan masyarakat lainnya. Juga melibatkan guru, pemuka agama, dan tokoh masyarakat lainnya.

Bahkan kalau perlu semua saluran media, termasuk media sosial pun digunakan untuk mensosialisasi hidup sehat. Sementara semua aparat pemerintah dari yang tertinggi hingga terendah harus mau “turun ke bawah”, memberi contoh dan teladan, agar nyata keseriusan pemerintah untuk membuat Jakarta lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here