Membuat Masyarakat Lebih Cerdas

Oleh : Iman Sjahputra

Belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang berbagai situs penyebar berita palsu (hoax). Yang menjadi sorotan dan ramai dibicarakan terkait media sosial. Bahkan belakangan muncul berbagai situs web berita yang juga ikut nimbrung meramaikannya.

Sejalan dengan perkembangan media sosial ini, memang disadari atau tidak berita penyebaran berita dari satu orang ke orang lain, begitu cepat. Bukan cuma itu yang namanya berita benar atau bohong pun juga menjalar begitu cepat. Apalagi yang menjadi perhatian orang atau yang tren di masyarakat, maka semakin cepat pula berita itu tersebar.

Lebih menarik, masyarakat tanpa menyaring lebih jauh, apakah berita itu benar atau bohong, “ditelan” begitu saja. Apalagi berita yang bernuansa kebohongan selalu diwarnai dengan topik yang sedang ramai-ramainya dibicarakan atau terkait peristiwa yang sedang “in” di masyarakat.

Sampai-sampai Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara,  mengibaratkan antara media sosial dengan hoax  sebuah “lingkaran setan”.   Karena menurut Pak Menteri pengguna media sosial sering mengutip situs hoax. Dan akhirnya berputar-putar di situ saja.

Yang harus mendapat perhatian ekstra adalah berita hoax melalui situs hoax ini berusaha membuat konten cepat menyebar luas. Semakin menyebar luas atau viral, maka trefik di situs itu makin tinggi. Dan ujung-ujungnya, iklan.

Persoalannya, bagaimana mengawasi berita atau situs hoax ini?  Apakah cukup dengan memblokade atau menutup situs hoax tersebut. Tampaknya, langkah ini harus dipikirkan lebih jauh, sebab memang mudah bagi pemerintah menutupnya. Tapi di era digital seperti sekarang ini?  Mereka akan begitu mudah juga membuka  kembali. Dan akhirnya akan berputar-putar seperti itu lagi, tutup, buka lagi, tutup buka lagi.

Karena itu, tepat yang dikatakan oleh Menteri Rudiantara, memblok situs hoax yang membuat berita hoax,  ini bukan solusi. Mereka akan mudah muncul lagi.

Salah satu cara yang mungkin bisa dilakukan adalah dari pemerintah yaitu memverifikasi ulang situs web yang ada di Indonesia yang jumlahnya sekitar 43.000 an. Dalam tahapan ini, maka akan diketahui siapa pengelola dan penanggungjawabnya. Dengan mensyaratkan nama penanggungjawab, maka dengan sendirinya mempermudah untuk mengetahui orang yang bertanggungjawab atas segala berita yang diturunkan.

Sebab, langkah memblok situs web hoax tanpa diikuti penegakkan hukum, menyeret penanggungjawabnya ke meja hijau, akan menjadi sia-sia. Sebab ya itu lagi, tutup, mereka buka lagi, tutup, buka lagi.

Sekarang dari sisi masyarakat, adalah mendidik mereka tentang berita benar dan bohong. Masyarakat perlu mengetahui apa itu berita bohong dan cara-cara menangkalnya. Dengan mudah beredarnya berita hoax melalui jejaring internet di masyarakat, hal ini salah satunya disebabkan oleh kagetnya masyarakat dengan gencarnya media memberitakan topik-topik yang sedang hangat dibicarakan.

Dengan demikian apa pun yang disajikan, ditelan begitu saja. Ini dicegah melalui edukasi tersebut. Media yang baik pun harus berperan dalam ikut mencerdaskan masyarakat tentang penggunaan media sosial yang baik dan benar. Tanpa langkah-langkah tersebut, semua penindakan akan sia-sia.

Yang penting sekarang adalah membuat masyarakat cerdas dan lebih kritis dalam menyikapi berita hoax.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here