Memetik Pelajaran dari Presiden ke-45 AS

Oleh : Iman Sjahputra

Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memang selalu bikin sensasi. Begitu banyak hal yang dilontarkan semenjak masa kampanye hingga dilantik menjadi presiden selalu jadi bahan kritikan. Seakan-akan dia terkesan menjadi tokoh yang kontroversial.

Sampai-sampai Presiden Jimmy Carter yang sudah terlihat sepuh itu, menyatakan bahwa sebaiknya semua orang mengenal lebih dekat dengan presiden baru ini. Bukan cuma itu, Ivanka Trump, anak perempuan Presiden AS itu, pun ikut sumbang suara.

Dalam sebuah  wawancara dengan ABC News,  disiarkan pada malam menjelang pelantikan, Ivanka Marie Trump (35 tahun)  menyatakan kalau dia sudah meminta ayahnya untuk menghapus beberapa ucapan ayahnya yang berbau kontroversial.

Karena itu, Ivanka meminta kepada warga Amerika Serikat untuk memberikan kesempatan kepada ayahnya. Beri dia waktu, biarkan dia membuktikan bahwa Anda salah tentang dia, ungkap Ivanka.

Tak ayal memang keberadaan Trump di Gedung Putih membuat gusar banyak pihak. Bahkan protes antiTrump tak henti-hentinya di negara itu, di berbagai tempat aksi protes seakan-akan digelar bergantian. Sampai-sampai beberapa jam setelah Trump resmi dilantik sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat, muncul sebuah lama bertujuan menggulingkan Donald Trump.

Situs itu berisikan petisi menggulingkan Trump sebagai Presiden. petisi online dengan alamat ImpeachDonaldTrump.org itu digerakkan dua kelompok, yakni Free Speech for People dan RootsAction.

Tampaknya petisi ini muncul karena  kekhawatiran Trump yang memanfaatkan jabatannya untuk melanggengkan bisnisnya. Menurut petisi itu, kekhawatiran tersebut dilihat dari sikap Trump yang sampai sekarang tidak divestasi aset-aset bisnisnya.

Itu baru satu persoalan, belum lagi masalah lain yang selalu dibicarakan Trump semasa kampanye, baik soal politik dalam negeri maupun luar negeri, belum lagi bidang ekonomi, sosial, budaya, hubungan luar negeri dan lainnya.  Banyak pihak di dalam dan luar negeri pun merasa was-was, hendak dibawah ke mana Amerika Serikat bersama Trump?

Karena itu, sebagai masyarakat awam, mereka juga khawatir. Apakah negara mereka  akan menjadi semakin besar dan kuat, atau justru berubah jadi olok-olokan negara lain?  Tidak heran pula bila banyak rakyat AS pun bertanya, apa yang sebenarnya terjadi di negaranya? Apakah tidak ada pemimpin lain yang lebih berkualitas?

Wajar-wajar saja kekhawatiran itu muncul, sebab ke mana negara ini menuju dan akan jadi seperti apa? Juga bergantung pada pemimpinnya. Bila pemimpinnya memiliki garis kebijakan yang tegas, dan mengerti persoalan yang dialami negaranya, maka akan terlihat pada visi dan misi setiap kebijakan yang diterapkan.

Tetapi bila pemimpinnya terkesan mementingkan diri sendiri dan merasa dialah yang “terbaik”, tak mempedulikan pihak lain, semua yang ada dianggap tidak baik, niscaya negara itu akan ambruk.

Sebenarnya banyak yang bisa dipetik dan dipelajari dari sepak terjang seorang Donald Trump hingga menjadi Presiden AS. Ujung-ujungnya, sifat dan kepribadian pemimpinlah yang menjadi jangkar semua itu. Bila dia memang pemimpin yang baik, sejak awal kita akan mengerti ke mana perahu negara kita berlayar, tetapi bila asal terjang ke  sana-sini tanpa arah yang tepat, maka kita sebaiknya siapkan pelampung, karena kapal dipastikan akan karam.

Bila karam, kita yang menjadi penumpang, atau rakyat, pun akan terkena dampaknya. Kita akan tenggelam dengan ambisi pemimpin yang hendak mengendalikan sendiri perahu besar itu.

Jadi, bagi pemimpin, keselarasan berpikir dan bertindak, mengedepankan kepentingan rakyatnya lebih besar dibanding kepentingan pribadi, selalu  berorientasi ke rakyat, dan bersama-sama rakyat membangun negeri, (dan masih sederet panjang faktor lagi), akan menjadi kunci kelanggengan dan kelangsungan hidup bangsa dan negaranya. *

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here