Memulihkan Jaringan Otak

JAKARTA, JIA XIANG – Belum lama ini, media online The Epoch Times dalam tulisannya sempat membahas soal hasil penelitian yang terkait dengan fenomena dan teori yang menantang pengetahuan saat ini. Media ini juga menyelidiki ide-ide yang merangsang imajinasi dan membuka kemungkinan baru. Salah satu yang disinggung adalah tentang kematian seseorang dikaitkan dengan otak. Ya kematian otak. Kematian didefinisikan sebagai berhentinya semua fungsi biologis yang menopang organisme hidup. Kematian otak, hilangnya seluruh fungsi otak (termasuk aktivitas paksa diperlukan untuk mempertahankan hidup) seperti yang dijabarkan dalam 1968 laporan Komisi Ad Hoc dari Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, adalah definisi hukum dari kematian manusia di sebagian besar negara di seluruh dunia.
Baik secara langsung akibat trauma, atau secara tidak langsung melalui indikasi penyakit sekunder, kematian otak adalah keadaan patologis akhir dialami oleh lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia setiap tahun.
Dikatakan berulang kali melalui pendekatan medis bahwa kematian otak adalah “tidak dapat diubah” dan harus dianggap sebagai akhir kehidupan di dunia ini. Sekarang kita mencoba untuk menggunakan pendekatan teknologi. Supaya bisa melihat apakah benar kematian itu menandai berakhirnya kehidupan di dunia ini?
Meskipun benar bahwa manusia tidak memiliki kemampuan substansial regeneratif pada sistem saraf pusat, namun banyak spesies non-manusia, seperti amfibi, planaria, dan ikan tertentu, justru dapat memperbaiki, meregenerasi, dan merombak bagian substansial dari otak, bahkan termasuk batang otak mereka. Semuanya terjadi setelah mengalami kondisi kritis yang mengancam jiwa mereka.
Kemampuan epimorfik (perkembangan bagian tubuh hewan sebelum menetas) telah dimanfaatkan dalam percobaan untuk transplantasi otak yang kompleks dalam organisme seperti pada hewan cicak, dan untuk mempelajari dinamika penyimpanan memori.
Studi selama ini telah membantu para peneliti mendapatkan sejumlah besar pengetahuan tentang proses epimorfik, regenerasi dan dinamika yang unik dan multi-mekanistik dalam memulai kembali pola perkembangan generatif sampai pada mengisi kembali jaringan dan organ yang hilang dan rusak dalam organisme hidup.
Di sisi lain ada studi terbaru tentang regenerasi otak yang kompleks seperti terjadi pada hewan planaria, amfibi, dan serangga holomorphic, mendapat sorotan berkaitan dengan proses penyimpanan memori setelah hancurnya seluruh otak, yang mungkin memiliki implikasi luas bagi pemahaman kita tentang kesadaran dan stabilitas memori.

Regenrasi Syaraf

Penyelidikan pada wilayah biologis pemrosesan informasi dalam organisme neural (sistem program dan struktur data), jaringan non-saraf, dan organisme-sel tunggal yang membentuk struktur multi-selular, menjadi tantangan bagi otak sebagai satu-satunya tempat penyimpanan informasi dalam jangka panjang.
Sekarang terkait sebutan kematian tak dapat diubah atau dipulihkan kembali seperti tertuang dalam definisi dari Komisi Ad Hoc Universitas Harvard tahun 1968, maka ada beberapa kasus yang didokumentasikan dalam literatur tentang potensi memulihkan kembali kematian otak, terutama yang berhubungan dengan subyek yang lebih muda, di mana sistem saraf pusatnya dapat dipertahankan dalam beberapa tingkatan yang mendasari neuroplastisitas atau kemampuan untuk membentuk jaringan saraf baru.
Banyak pihak di bidang ini mengakui bahwa residual dari aktivitas syaraf dan sisa-sisa aliran darah ini mengalir ke otak yang sudah didiagnosa sudah mati. Hal itu tampaknya dapat dimengerti dan secara teori mungkin terjadi dengan adanya regenerasi syaraf dan pembentukan kembali perangkat-perangkatnya.
Artinya, secara luas dipahami bahwa dalam otak yang dikatakan sudah mati, masih dapat terus terjadi proses-proses seperti sirkulasi, pencernaan, metabolisme, ekskresi, keseimbangan hormon, pertumbuhan, kematangan seksual, kehamilan, penyembuhan luka, dan demam.
Namun sudah sejak seabad lalu, sudah dilakukan dan diketahui banyak orang tahu seperti transplantasi organ, defribilasi jantung, respirasi paru. Sekarang di tahun 2016 banyak pihak dengan kemajuan teknologi, maka tampaknya sudah berada di depan pintu untuk menjawab beberapa yang unik, mendalam, dan pertanyaan kontroversial tentang manusia dan kematian. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here