Menanti Langkah Berani KPK

Tahun 2013 baru saja berlalu, kini aktivitas di lembaran baru mulai dilakoni. Banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, terutama yang menjadi tumpukan pekerjaan rumah bagi institusi penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kasus korupsi dan suap yang terus menerus mendera republik ini, dan terjadi di seluruh lini membuat kepercayaan publik terhadap lembaga politik dan pemerintahan di Indonesia kian hari kian merosot. Tak heran jika setiap mengawali tahun baru dan menapaki lembaran baru, rakyat kebanyakan terus berharap ada upaya penegakan hukum yang benar-benar bisa membangkitkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Publik masih ingat janji Ketua KPK Abraham Samad saat mengawali tahun 2013. Dia dan timnya berkomitmen menuntaskan sejumlah kasus korupsi “besar” yang ditengarai melibatkan petinggi republik ini. Sayangnya, hingga 2013 berakhir sederet kasus korupsi dengan kerugian negara yang begitu besar, belum bisa terselesaikan. Meski demikian, publik tetap mengapresiasi positif dan terus mendukung KPK.

Hingga penghujung 2013, ada dua kasus besar terkait penyimpangan duit negara yang pengungkapan dan penanganannya masih di “kulit luar”, yakni skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan kasus Bank Century. Pengungkapan dua kasus inilah yang menjadi pekerjaan rumah KPK yang paling ditunggu-tunggu rakyat Indonesia.

Kasus BLBI disebut-sebut sebagai sejarah kelam dalam perekonomian Indonesia. Dari kasus ini diketahui triliunan rupiah raib akibat masalah arsip. BLBI merupakan skema bantuan dari Bank Indonesia kepada 48 bank “bermasalah” saat krisis moneter terjadi 1997-1998. Duit yang digelontorkan mencapai Rp 140 triliun.

Usia KPK sudah menginjak 10 tahun. Skandal pengucuran dana BLBI itu sudah terjadi beberapa tahun sebelum KPK dibentuk. Namun kasus ini menjadi tanggung jawab KPK untuk mengungkapnya. Hingga kini, KPK masih menyelidiki penerbitan surat keterangan lunas untuk menyelesaikan kasus BLBI. Meskipun puluhan saksi sudah diperiksa, KPK belum bisa menentukan tersangka.

Butuh energi besar, kemauan kuat, dan strategi jitu membongkar dan mengungkap kasus sebesar skandal BLBI. Lagi-lagi tugas berat yang dipikul bertahun-tahun itu tak boleh berhenti. Publik pun terus berharap KPK sebagai lembaga yang powerfull bisa menggerakkan seluruh “anggota tubuhnya” dengan baik dan benar dalam mengungkap kasus ini. Kredibilitas dan kemampuan KPK juga dipertaruhkan dalam kasus ini, dan publik tetap menaruh asa.

Selain kasus BLBI, kredibilitas KPK dan komitmen pemberantasan korupsi juga dipertaruhkan dalam kasus skandal Bank Century. Untuk kasus ini, harapan publik sempat terpompa naik ke titik tinggi tatkala KPK memeriksa Wakil Presiden Boediono. Status mantan Gubernur BI ini masih sebagai saksi. Meskipun terjadi perdebatan soal tempat pemeriksaan, namun itu bukan menjadi perkara yang subtantif selama KPK benar-benar bisa mendapatkan “sesuatu” dari pemeriksaan Boediono.

Skandal Bank Century sudah bergulir selama lima tahun. Dengan waktu sepanjang itu, KPK baru menetapkan mantan Deputi Bidang IV BI, Budi Mulya sebagai tersangka pada 7 Desember 2012 yang akhirnya kemudian ditahan sejak 15 November 2013. Sedangkan mantan Deputi Bidang V BI, Siti Chodijah Fajriah, yang sedang sakit keras, adalah orang yang dianggap dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.

Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik dan mendapatkan “bailout” atau dana talangan sebesar Rp6,7 triliun. BPK telah menyerahkan laporan audit kerugian negara sebesar Rp689 miliar lebih karena pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) ke Bank Century, dan Rp6,7 triliun karena menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Jumlah kerugian negara dari dua kebijakan itu mencapai Rp7,4 triliun.

Dalam kasus Century, KPK telah memeriksa 94 saksi dan enam saksi ahli. KPK pun mengklaim masih harus mempelajari laporan audit BPK yang baru diserahkan pada 23 Desember 2013. Hingga di titik ini, benang merah skandal Century belum benderang benar. Langkah tegas pengungkapan belum menjamah peran dan “salah” petinggi-petinggi negara yang mungkin terlibat. Tak heran jika hingga lima tahun bergulir, KPK baru mencokok “teri” dan belum menjerat “kakap”.

Publik sangat tahu bahwa pengucuran dana dalam skandal Bank Century tak mungkin bisa dilakukan hanya seorang saja dalam lingkaran elit. Siapapun  itu, rakyat tentu berharap KPK tak akan gentar, KPK tak akan mundur selangkah pun, KPK tak akan tebang pilih. Selamat bekerja KPK, selamat menapaki lembaran baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here