Menanti Rezeki dari Darat dan Laut

Jia Xiang – Dua tiang itu akhirnya jatuh,  satu menghadap ke darat dan lainnya ke laut setelah api melumat seluruh badan tongkang  atau kapal pada ritual bakar tongkang di kota Bagansiapiapi,   tahun 2013.  Etnis Tionghoa di kota itu pun yakin bahwa rezeki setahun ke depan banyak berasal dari laut dan darat.
Bakar tongkang merupakan ritual yang dilakukan etnis Tionghoa di Kota Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau,  guna menghormati leluhur mereka. Puncak ritual itu saat  dua tiang layar tongkang roboh.  Bila tiang layar jatuh menghadap ke darat, maka rezeki setahun ke depan banyak berasal dari darat. Bila tongkang jatuh menghadap ke laut, rezeki banyak berasal dari laut.
Namun pada bakar tongkang  hari Senin, (24/6/13) itu,  satu menghadap ke laut dan lainnya justru  jatuh ke darat.
Sekitar pukul 16.00 WIB  panitia menyulut api di bagian depan tongkang, dan dalam hitungan detik, api menjilat seluruh badan tongkang. Materialnya yang terbuat dari kayu meranti dan  hiasan kapal yang berasal dari kertas, membuat api cepat berkobar menggerogoti tongkang.
Satu jam kemudian, dua tiang layar itu terhempas ke tanah bersamaan dengan percikan api yang berhamburan ke udara.
Ribuan pasang mata yang menanti kejadian itu,  sontak mereka bersorak-sorai di tengah kepungan asap tongkang dan dupa. Sementara di bagian lain beberapa orang terlihat kerasukan, mereka memukul tubuh masing-masing dengan bola berduri hingga berdarah.
Tongkang dibakar di lapangan seluas sekitar  800 meter persegi dan diawali dengan penghormatan kepada Bupati Kabupaten Rokan Hilir, Annas Mamun dan jajarannya.
Beberapa kelompok yang berdandan ala dewa dan tokoh-tokoh Tionghoa,  menari di depan para pejabat itu. Puncak acara bakar tongkang itu, juga dirangkai dengan acara lainnya yang  berlangsung dari 22-26 Juni 2013.
Bahkan sehari sebelum acara bakar tongkang, warga Tionghoa mengarak tongkang itu mengelilingi  Pecinan di Bagansiapiapi, dan diiringi doa kepada dewa. Ribuan etnis Tionghoa dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina mengiringi tongkang sambil berdoa dan mambawa dupa yang dipegang sejajar dada. Alhasil, asap dupa yang menari-nari ditiup angin memenuhi kawasan itu. Doa yang mereka panjatkan baru berakhir setelah tongkang dimasukkan ke Kelenteng Ing Hok King.
Menurut Kim Lo (67 tahun), dia bersama Acuan (40) mengerjakan Tongkang itu selama 26 hari. Kim mambuat badan tongkang,  sementara Acuan membuat aksesorisnya.
“Tongkang sepanjang 8,20 meter ini dibuat dari kayu meranti biasa dengan lebar 2 meter, dan tinggi 1,5 meter. Dua tiang layar itu tingginya 4,8 meter,” ujar Kim kepada Jia Xiang Hometown sambil menyetel tali layar.
Sedangkan Acuan menambahkan bahwa dia memerlukan tak kurang dari 100 lembar kertas warna warni dan satu gulung besar kain katun untuk mendekorasi tongkang tersebut. “Gambar-gambar ini bermakna hal-hal yang baik, pelindung, dan rezeki,” ujar Acuan sambil meniup debu dari sela-sela papan perahu.
Tradisi bakar tongkang berawal dari peristiwa tahun 1826.  Konon sekitar 18 warga Fu Jian, Cina berlayar dengan 3 kapal kayu yang disebut tongkang. Dalam pelayarannya dua tongkang tenggelam.
Sedangkan satu tongkang berhasil mendarat di kawasan hutan bakau setelah mereka melihat kerlap-kerlip cahaya yang ternyata adalah kunang- kunang (si api-api). Di bibir pantai hutan bakau itu, mereka mendirikan pemukiman yang sekarang disebut Bagansiapiapi.  Kata bagan bermakna tempat, kawasan, atau bangunan terapung di air untuk menangkap ikan.
Etnis Tionghoa di wilayah itu meyakini bahwa dalam tongkang yang selamat itu ada patung dewa laut Ki Ong Ya dan Tai Su Ong, sehingga satu abad setelah pendaratan itu, mereka melakukan bakar tongkang untuk menghormati dua dewa laut itu.
Setiap tahun bakar tongkang diadakan tanggal 16 bulan kelima kalender lunar (kalender Cina) yang dalam bahasa Hokkien disebut Go Cap Lak.  Go berarti bulan kelima dan Cap Lak berarti tanggal enam belas.

Penghasil Ikan
Kota Bagansiapiapi adalah Ibu Kota Kabupaten Rokan Hilir, terletak di barat daya Provinsi Riau dan pernah menjadi penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Norwegia.  Namun,  kejayaan itu kini telah redup. Letak Bagansiapiapi juga sangat strategis karena dekat Selat Malaka yang menjadi lalu lintas perdagangan internasional. Di kota itu  ada ratusan kelenteng kecil sebagai tempat ibadah dari perkumpulan marga Tionghoa.
Menurut Bupati Rokan Hilir, bakar tongkang merupakan kegiatan wisata penting bagi kota tersebut karena mampu menyedot ribuan wisatawan domestik dan mancanegara. Namun potensi pariwisata itu terkendala oleh minimnya infrastruktur.
Di Bagansiapiapi yang luasnya 940,56 km persegi dan berpopulasi 93.065 jiwa (data tahun 2010) saat acara bakar tongkang sulit mencari hotel dan penginapan,  karena  sudah dipesan jauh-jauh hari oleh para wisatawan.
Sementara itu, penginapan kategori wisma kurang bersih dan fasilitasnya juga seadanya. Bahkan kondisi jalan lintas menuju kota Bagansiapiapi buruk, akibatnya menimbulkan kemacetan.
Saat Jia Xiang Hometown bertolak dari Kota Pekanbaru, Riau, menuju Bagansiapiapi, Jumat (21/6/13),  terpaksa harus menyewa taksi karena bus dan mobil travel sudah tidak beroperasi karena sudah sore.
Jarak keseluruhan dari Pekanbaru ke Bagansiapiapi sekitar 300 kilo meter dengan melewati wilayah Minas, Duri,  dan Ujung Tanjung. Menurut Sudirman, supir taksi yang ditumpangi Jia Xiang Hometown, biasanya dari Pekanbaru ke Bagansiapapi bisa ditempuh antara 6-7 jam. Namun perjalanan Jia Xiang Hometown memakan waktu 11 jam karena jalanan rusak.
Belum lagi kemacetan di sejumlah pom bensin, karena antrean panjang kendaraan yang berebut bahan bakar murah sebelum harga BBM naik mulai pukul 24.00 WIB.
Mobil  truk pengangkut kayu gelondongan dan kelapa sawit yang kadang terguling juga makin menambah kemacetan. [W1/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here