Menepati Janji

Patung Ji Zha dengan pedangnya (Foto: JX/theepochtimes)

BEIJING, JIA XIANG –  Ji Zha (576-484 SM) adalah putra termuda Kaisar Shou Meng dari negara Wu, di periode Musim Semi dan Gugur dalam sejarah Cina. Dia begitu sangat dihargai  oleh Konfusius. Bahkan ketika Konfusius mengajar, paling tidak Ji Zha dipuji  sebanyak empat kali.

Menurut  “Shiji” atau  “Catatan Sejarawan Agung”, Raja Shou Meng ingin sekali Ji Zha menggantikannya. Namun, Ji menolaknya. Kemudian raja merancang sebuah model pergantian jabatan raja yaitu anaknya akan menjadi raja, dan raja berikutnya digantikan anaknya lagi begitu seterusnya.

Walaupun ada aturan itu, Ji tetap menolak sebanyak tiga kali jabatan raja, dan menyerahkannya kepada tiga kakaknya yang lebih tua.

Negara Wu, terletak di selatan Cina, dekat mulut Sungat Yangtze. Negara Wu sangat terkenal sebagai penghasil pedang yang berharga.

Suatu ketika, Raja Shou Meng mengirim Ji Zha untuk menjalankan sebuah misi yaitu mengunjungi beberapa negara di Cina bagian tengah.

Berangkatlah Ji  ke wilayah Utara, melintasi tetangganya, Negara Xu. Raja Xu sangat mengagumi pedang yang dibawa Ji. Tetapi dia tahu bahwa itu adalah harta milik Negara Wu, dan ternyata memang sulit untuk meminta pedang tersebut.

Ji Zha tahu bahwa raja Xu mengagumi pedangnya. Namun Ji tetap harus lebih dulu menyelesaikan misinya ke beberapa negara. Dan membawa pedang adalah sebuah protokol negara yang harus dilakukannya, sehingga dia tidak dapat memberikannya kepada Raja Xu seketika itu juga.

Saat dia selesai menjalankan tugasnya, dia kembali ke Negara Xu. Namun setibanya di Xu, raja sudah wafat. Kemudian Ji Zha dengan sangat bermurah hati rela berpisah dengan pedang yang berharga itu. Lalu pedang tersebut digantungnya di pohon pinus tepat di sebelah makam Raja.

Pengawal raja pun bingung. Ji mengatakan:”Saya berjanji dalam hati saya untuk menyerahkan pedang ini kepada raja. Haruskan saya membatalkan  janja saya itu, walau pun dia sudah wafat?”

Peristiwa ini menjadi sebuah cerita yang sangat dihargai sepanjang masa. Ji Zha sangat menghormati janjinya itu walau pun tidak diucapkan.

Saat ini orang mungkin akan begitu mudah mencabut janji yang diucapkan secara lisan,  sehingga perjanjian seperti ini banyak dikkat dalam sebuah kontrak tertulis. Namun meskipun ini jelas diatur dalam perjanjian tertulis resmi atau “hitam di atas putih”,  tetap saja terkadang orang masih tidak dapat menjamin bahwa setiap kontrak itu akan terpenuhi. [JX/Theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here