Meneruskan Usaha Leluhur

Jia Xiang – Pada zaman Dinasti Yuan (1280 -1368 SM) Tiongkok dikuasai oleh bangsa Mongol. Para pemimpin dinasti sebelumnya yaitu Dinasti Sung (960 – 1280 SM) tidak senang tunduk pada pemerintahan asing, kemudian menentukan suatu cara untuk memberontak tanpa diketahui. Pemimpin-pemimpin pemberontak mengetahui bahwa Perayaan Bulan sudah dekat, dan memerintahkan untuk membuat kue khusus. Ke dalam setiap kue bulan dimasukkan sebuah pesan tentang rencana penyerangan. Pada malam Perayaan Bulan, para pemberontak berhasil menyerang dan menggulingkan pemerintah. Kemudian berdirilah Dinasti Ming (1368 – 1644 SM).

Kue bulan yang bundar adalah sebuah makanan tradisional yang dimakan selama Festival Pertengahan Musim Gugur sebagai peringatan akan keutuhan keluarga. Setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar, orang Tionghoa di seluruh dunia memperingati Festival Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie). Pada hari istimewa ini, orang Tionghoa bersembahyang di rumah-rumah ibadah dan melakukan acara keluarga di rumah. Setelah malam tiba, seluruh keluarga menikmati piknik di taman-taman umum. Menurut legenda rakyat, tanggal 15 bulan 8 kalendar Lunar juga merupakan ulang tahun  Dewa Bumi, atau Tu Di Gung.

Jadi perayaan ini melambangkan akhir kerja keras selama setahun di ladang. Keluarga-keluarga petani menunjukkan rasa terima kasih pada Dewa Bumi, begitu pula pada Tuhan, yang dilambangkan oleh bulan, untuk berkahnya selama setahun.

Jelang perayaan musim gugur masyarakat Tionghoa di Indonesia biasa merayakannya dengan menyediakan Kue Bulan (Moon Cake), bagi sebagian masyarakat Tionghoa perayaan tersebut sangatlah dianggap penting, kue bulan dengan  bentuknya yang bundar melambangkan keutuhan dalam keluarga. Untuk mendapatkan kue tersebut sebagian besar warga Tionghoa membeli di toko-toko kue yang menjual makanan khas dari negeri Tiongkok. Bagi Fanny, wanita yang sudah sekian lama menggeluti usaha dari leluhurnya membuat kue khas Cina ini mengatakan bahwa awalnya dia tidak mengerti sama sekali bisnis ini.

“Awalnya saya tidak mengerti usaha ini, tapi memang setiap hari saya melihat orang tua saya membuat kue Cina,  lama-kelamaan saya jadi tertarik untuk belajar membuatnya,” tutur Fanny saat ditemui di rumahnya yang sekaligus pabrik kue bulan atau sering disebut kue Cina, di  Jalan Lio Baru/Bouraq, Gg SPG No.55 RT.01/02, Kampung Sirna Galih, Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Sudah 35 tahun lamanya Fanny meneruskan usaha keluarga ini,  membuat kue Cina di Kota Tangerang. Dengan menggunakan merek Ny Lauw, nama orang tua Fanny,  perusahaannya sangat di kenal sampai di luar Pulau Jawa, bahkan tidak menutup kemungkinan pelanggannya dari kawasan Asia lainnya. Ketenaran kue hasil buatan Ny Lauw ini seringkali disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Banyak ditemukan kue Cina yang menggunakan mereknya, terutama produk Kue Dodol Cina.  ”Saya pernah menemukan dodol Cina yang menggunakan merek saya, tapi itu palsu. Sebab kue yang kita produksi lain daripada yang lain. Bentuk dan rasanya saja pasti beda,” pungkasnya. Dalam merayakan kue bulan perusahaan kue Ny Lauw  tidak memproduksi banyak, sebab perusahaannya hanya mengkhususkan membuat Dodol Cina saja.

Namun   bisa juga membuat kue Cina,  jika ada pesanan. “Iya memang kami hanya membuat Dodol Cina saja, untuk kue Bulan kami hanya menerima order dan itu biasanya tidak banyak,” tambah Fanny saat ditemui di pabriknya yang terlihat sederhana, dan di balik kesederhanaan itu, nama Ny Lauw sangat di kenal di mana-mana.[JX/Den/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here