Mengejar Matahari

(Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – Ada sebuah kisah yang terjadi di zaman dulu, yaitu  dewa bernama KuaFu bertekad untuk menggelar  balapan dengan matahari dan dia akan berusaha untuk mengejar  matahari tersebut.

Jadi dia segera bergegas menuju ke arah matahari tersebut.  Akhirnya, dalam lomba itu dia hampir mengejar matahari, namun kenyataannya dia begitu haus dan kepanasan  yang terus-menerus selama berlari.

Di tengah lomba itu, dia bertanya dalam hati di mana dapat ditemukan air?  Saat itu dia berpikir seperti itu, Sungai Kuning dan Sungai Wei  mulai tampak di pandangannya.  Dalam kondisi yang begitu panas dan haus, KuaFu  berlari dan menerjunkan diri ke dalam air sungai itu, lalu dia sungguh-sungguh  minum seluruh air sungai.

Tapi dia masih merasa haus dan panas, kemudian, dia bergerak lagi ke utara mencari danau di kawasan utara Cina. Sayangnya, dia jatuh dan wafat  di tengah jalan karena kehausan.

Dengan jatuhannya KuaFu, tongkatnya pun ambruk. Kemudian tongkatnya menjadi hamparan  buah persik, berwarna hijau dan tumbuh subur.

Jadi, arti dari ungkapan KuaFu mengejar matahari ini tidak lain adalah menggambarkan betapa tekad manusia yang begitu besar dan menggebu-gebu, walau pun dia harus melawan kemauan atau melawan kondisi alam.

Dengan kata lain, tekad ini, seperti KuaFu,  dilakukan tanpa mengindahkan alam sekitar, dan akhirnya membuat dia menderita dan menemui ajal. [JX/chineseculture/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here