Mengembalikan Kejayaan Xiang Xiu

BEIJING, JIA XIANG – Bukan hal biasa melihat seorang pemuda mengerjakan bordir di Tiongkok. Tetapi bagi Jiang Tongwan, pria berusia sekitar 20 tahun, pemilik sebuah bengkel kerja di Provinsi Hunan, itu adalah pilihannya.
“Banyak orang tidak memahami pilihan itu. Saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa bordir Hunan adalah bagian dari tradisi budaya kita yang harus dilestarikan,” ungkap Jiang, lulusan dari sekolah kejuruan di Hunan dengan bidang studi bordir bergaya Hunan. Dia adalah salah satu dari 11 pria lulusan pertama dari sekolah tersebut.
Bordir Tiongkok memiliki sejarah panjang, ribuan tahun lalu. Xiang Xiu, atau bordir Hunan, salah satu dari empat gaya utama. Bordir gaya ini menonjolkan warna terang dan bayangan, sehingga menimbulkan kesan efek tiga dimensi pada gambar.
Puncak industri bordir ini tahun 1970-an dan 1980-an, tetapi mulai pudar setelah pabrik kain bordir di Changsha, yang memiliki 30.000 pengrajin, ditutup. Keuntungan pabarik itu, ketika beroperasi, sekitar 1 juta yuan atau sekitar 152.200 dollar AS.
“Para pengrajin bordir bekerja di rumah,” ujar Zeng Yingming, Manajer Umum Hunan Embroidery City Group. “Hampir setiap rumah tangga memiliki seseorang yang bisa membordir.”xiang 2
Namun situasi bisnis bordir ini berubah di tahun 1990-an, ketika banyak pabrik, termasuk salah satunya di Changsha tutup. “Banyak sebab sampai terjadi depresi seperti ini,” ungkap He Chun, pakar industri budaya. “Produk palsu, dibuat mirip asli dan harganya tinggi menjadi penyebab utama. Keadaan ini akibat dari kurangnya pemahaman tentang hak intelektual dan kurangnya talenta.”
Kondisi terburuk adalah Hunan Embroidery City Group tinggal hanya memiliki dua bengkel kerja dengan empat karyawan. Kemudian Zeng menghentikan produksi ornamen bermotif tradisional sebesar 80 persen dan menjadikan pabriknya menghasilkan barang-barang yang dipakai setiap hari.
“Pakaian kirim ke Spanyol, sepatu ke Italia, gaun ke Jepang, dan seragam sekolah untuk Korea Selatan,” katanya. “Kami melakukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan kami. 95 persen komiditi kebutuhan sehari-hari sekarang menjadi produk perusahaan.”
Sekarang kelompok usaha ini menjadi perusahaan modern dengan 10.000 pekerja dan meraup 1,5 miliar yuan per tahun. Produk-produknya dijual di lebih dari 10 negara. Tahun lalu nilai ekspornya mencapai 30 juta dollar AS.
Menurut seorang pakar Xiang Xiu yang enggan disebut namanya kepada Xinhua, sangat disayangkan sebuah bentuk seni yang memiliki sejarah 2.000 tahun digunakan hanya untuk komoditas murah.xiang 1
“Saya sungguh tidak ingin melihat Xiang Xiu kehilangan pamor,” ujarnya. “Bentuk seni tradisional tidak berada di museum,” ujar Zeng Yingming. “Untuk seni kerajinan tangan tradisional, satu-satunya cara bertahan hidup adalah menggabungkan seni ini dengan pemasaran, mengembangkan produk-produk baru yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan saat ini.”
Supaya menambah pengetahuan para karyawannya tentang kain bordir Institut Penelitian Bordir Hunan, dan Lembaga Seni dan Ketrampilan Hunan memberikan pelatihan keahlian tradisional.
Wu Jianmei, wanita asal Hunan berusia 56 tahun yang adalah pakar bordir kain, sudah mengajar lebih dari 7.000 orang selama tiga dekade. “Mulai dari perpaduan warna sampai memasang benang ke jarum. Saya ingin melihat mereka menciptakan karya besar. Jadi seni bordir ini dapat diwariskan,” ujar Wu. [JX/Chinadaily/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here