Menggugah Hati Insan Pers

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2014 di  Kota Bengkulu,  Kamis (6/2/14) resmi dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring. Berbagai acara dieglar di kota itu termasuk  pameran produk/jasa unggulan, layanan publik, pers, media periklanan, dan wisata Nusantara.

Dalam pameran HPN 2014, berbagai instansi pemerintah daerah, perusahaan pers, lembaga swadaya masyarakat  dan UMKM ikut serta memamerken produk-produk mereka. Acara itu digelar selama 10 hari sejak 1 hingga Senin (10/2/14). Bahkan bebagai kegiatan  juga akan digelar di berbagai tempat termasuk Universitas Bengkulu.  Bahkan, seperti biasa puncak acara pada Minggu (9/2/14) dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersana ibu Ani Yudhoyono dan  para pejabat negara, bahkan pejabat negara tetangga, Malaysia, para pemilik dan petinggi perusahaan pers menghadiri acara itu.
Puncak acara itu akan meluncurkan pengoperasian Pusat Pendidikan Wartawan ASEAN, yang berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan.
Bila kita sedikit melihat ke belakang, 9 Februari 1946 adalah salah satu tonggak sejarah dunia pers Indonesia. Beberapa wartawan, kala itu, berkumpul di Societeit Sasana Soeka, Surakarta atau kini lebih sering disebut Monumen Pers Nasional. Perkumpulan itu sebenarnya cikalbakal berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),  organisasi pers pertama pasca Indonesia merdeka.
Sejak  itulah, maka 9 Februari ditetapkan sebagai hari lahirnya  PWI. Kemudian organisasi itu diperkuat dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden No 5/1985, yang menetapkan bahwa tanggal 9 Februari sebagai  Hari Pers Nasional (HPN).

Sebagai insan pers yang selalu menyuarakan dan berada di depan dalam membela kebenaran, sepatutnya tidak henti-hentinya memberitakan bukan saja soal kebenaran itu sendiri, tetapi hal-hal lain yang menganggambarkan kenyataan dan fakta hidup di masyarakat negeri ini.  Belakangan ini, berbagai berita menyangkut korupsi, tindak kriminal, dan bencana alam yang melanda negeri ini, disuarakan, diberitakan, dan ditayangkan secara jelas dan tegas oleh pers.Di sisi lain, di tengah kemeriahan HPN itu, wartawan di Indonesia masih juga dibayangi oleh masalah besar yang masih mengganjal dan selalu menghantui para insan pers yaitu aksi kekerasan. Bahkan sampai kini banyak kasus lama yang belum dapat ditemukan jawabannya, termasuk oleh aparat penegak hukum sekali pun.
Menurut catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, sejak Januari hingga Mei 2013, terjadi 25 kasus kekerasan terhadap wartawan. Belum lagi kasus-kasus lama seperti pembunuhan Fuad Muhammad Syarifuddin (Udin) watawan  Harian Bernas (1996),  Naimullah (Harian Sinar Pagi di Kalimantan Barat, 1997) dan Agus Mulyawan (Asia Press di Timor Timur, 1999).
Harus menjadi pikiran kita bersama, bahwa di tengah bayang-bayang aksi kekerasan dan penderitaan korban bencana alam, PWI masih sempat menyelenggarakan pesta yang tergolong luar biasa.  Artinya, sebagai organisasi yang menaungi para insan pers, tidakkah ada rasa prihatin yang mendalam terhadap saudara-saudara kita yang tengah menderita itu. Kalau tugas sebagai penyebar informasi, para wartawan sudah menjalankan tugas dengan baik.  Kini yang perlu digugah adalah kerelaan mengulurkan tangan untuk mau membantu saudara-saudara kita yang malang di berbagai tempat.
Jadi, bertindak memberikan sesuatu, bukan hanya sekadar menyuarakan “daerah ini kekurangan bantuan”, “para korban membutuhkan pertolongan”, “mereka masih tidur di tempat pengungsian” dan sebagainya, dan sebagainya.  Dengan kata lain, buktikan bahwa para pekerja media ini, juga memiliki “hati”. Apalagi sekarang,  yang namanya politisi besar dan mereka yang mencalonkan diri untuk maju menjadi calon presiden dan wakil presiden, ada yang memiliki media massa. Mereka juga pasti punya “hati” untuk menolong, jangan hanya mau berkorban besar untuk kepentingan politik, sementara saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan terabaikan, dan tidak dipedulikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here