Menghargai Pahlawan

Cao Cao (Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – Era Tiga Kerjaan (220 SM – 280 SM) adalah masa terjadi pergolakan dalam sejarah Cina. Dengan begitu berwarnanya fakta sejarah yang mempersofinikasikan tokoh-tokoh sejarah yang memiliki pengertian tentang kesetiaan dan kebenaran dalam budaya Cina.

Ada beberapa tokoh berpengaruh di era tersebut yaitu: Liu Bei, Zhuge Liang, dan Guan Yu dari negara Shu. Zhou Yu dari negara Wu, dan Cao Cao dari negara Wei. Cao Cao digambarkan sebagai tokoh negatif dengan sosok yang kejam, seorang prajurit yang menakutkan, namun dia ahli strategi yang cerdas.

Namun demikian, menurut arsip yang berbeda, Cao Cao tercatat dengan politisi hebat yang memiliki visi dan ketrampilan administrasi yang baik. Di samping itu dia dikenal sebagai orang yang multi talenta dalam literatur dan strategi militer. Dia juga orang yang optimistis sebagai manusia yang  memiliki tingkat toleransi tinggi dan dukungan luar biasa, dikenal sebagai orang  berhati besar.

Pada tahun 198 M, ibunda  Bi bersama anggota keluarga lainnya diculik oleh para pemberontak yang mengungsi ke kamp lainnya. Bi adalah bawahan Cao Cao. Waktu itu, Cao Cao mengatakan kepada Bi bahwa dia boleh pergi dan bergabung bersama ibunya.

Bi pun berikrar kalau dia tidak akan pergi. Mendengar hal itu, Cao Cao pun meneteskan air matanya.  Namun demikian Bi akhirnya secara diam-diam meninggalkan Cao Cao.

Ketika para pemberontak berhasil diberantas dan Bi ditangkat, orang-orang mengkhawatirkan nyawanya. Namun tidak bagi Cao Cao, dia tidak membunuh Bi. Namun dia justru mencalonklan Bi sebagai menteri. Cao Cai mengatakan,”Bagaimana seorang anak pria yang berbakti tidak setia kepada penguasanya?”

Cao Cao tidak pernah menganggap Liu Bei, penguasa dari negara Shu, sebagai musuh. Namun justru dia menilai lawannya itu sebagai pahlawan. Penasehat Cao Cao sempat beberapa kali mendesak supaya dia membutuh Liu. Tetapi Cao Cao menjawab:”Sekarang saatnya kita menghormati para pahlawan. Saya tidak dapat membunuh seseorang untuk kehilangan hati seluruh rakyat.”

Pada tahun 200, dalam sebuah pertempuran dengan Liu, Cao Cao menang dan seorang jenderal yang terkenal, di pemerintahan Liu, yaitu Guan Yu, menyerah. Cao Cao justru memperlakukannya sangat baik dan menganugerahinya sebuah jabatan penting.

Namun demikian, ketika Guan mencaritahu bekeradaan Liu, dia pun akhirnya meninggalkan Cao Cai untuk bergabung kembali dengan Liu. Guan hanya meninggalkan sebuah surat pengunduran diri.

Kemudian para penasegat Cao Cao mendesaknya supaya memerintahkan mengerjar Guan dan menangkap kembali. Cao Cao mengatakan: “Biarkan seseorang mengikuti masternya. Biarkan dia pergi!”

Kemudian, ketika Guan dipenggal kepalanya oleh musuhnya yang lain, lalu kepala Guan diserahkan kepada Cao Cao sebagai hadiah. Cao Cao lalu memerintahkan untuk membuat patung seukuran Guan, supaya dia bisa menguburkan Guan sebagai satu kesatuan yang utuh. Ini adalah sebagai penghargaan terhadap seorang pahlawan.

Hal ini karena seperti seorang berhati besar yang membiarkan Liu, Guan, dan lainnya untuk memainkan peran besar dalam periode yang terkenal dari sejarah Cina. Dan melalui interaksi dari orang-orang yang luar biasa, kebajikan dari sebuah kesetiaan dan kebenaran telah perlihatkan sepenuhnya kepada mereka. [JX/theepochtimes/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here