Menghidupkan Lagi Pendidikan Karakter

Sungguh mengkhawatirkan, jika semua pihak benar-benar membuka mata bahwa saat ini nilai-nilai moral, pendidikan karakter, dan nasionalisme kita ternyata masih  tersandera teori dan slogan-slogan.

Nilai moral, nasionalisme, dan pendidikan karakter belum beranjak ke ranah perilaku nyata dalam setiap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Tak mengherankan jika para cendikiawan dan kalangan pemerhati sosial serta pendidikan mulai mengingatkan tentang ancaman degradasi moral yang semakin memprihatinkan.

Lihat saja data di sepanjang tiga tahun terakhir, hampir di seluruh pelosok negeri ini, terutama di kota-kota besar,  terjadi berbagai aksi kekerasan berkelompok yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. Tawuran pelajar atau mahasiswa, dan perkelahian antarkelompok warga seperti menjadi menu rutin. Aksi-aksi kekerasan ini seringkali merenggut nyawa anak-anak muda, yang seharusnya bisa menjadi harapan keluarga dan bangsa.

Belum lagi tindakan-tindakan (kasus) asusila dan penyimpangan seksual di kalangan remaja dan pelajar yang kian hari kian mengkhawatirkan. Tindakan amoral ini  seperti menjadi sesuatu yang patut “dibanggakan” untuk dipublis ke publik. Padahal nilai-nilai moral dan pendidikan karakter bangsa kita sangat tegas, melarang itu semua.

Ketika perkara-perkara ini diperdebatkan, lagi-lagi kambing hitamnya  modernisasi dan kecanggihan teknologi. Padahal teknologi hanyalah benda yang pemanfaatannya sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. Sementara modernisasi adalah kenyataan yang tak bisa dielakkan dalam siklus kehidupan manusia.

Tentu saja, semua perkara ini bukan salah teknologi dan modernisasi. Semua persoalan itu bersumber dari manusianya, bersumber dari pergeseran nilai-nilai moral dan karakter manusia. Secanggih apapun teknologi, seburuk apapun “bujukan” modernisasi jika manusianya siap untuk menjaga nilai-nilai moral dan budayanya, tentu semua perkara buruk dapat dihindari.

Jika dikembalikan ke lingkup lembaga pendidikan, sekolah-sekolah, kampus-kampus, tentu saja masih sangat banyak yang harus dievaluasi dan dibenahi. Pemangku bidang pendidikan bisa disebut belum mampu menginternalisasi nilai-nilai moral dan pendidikan karakter sebagai arus utama dalam proses pendidikan.

Meski demikian, tak perlu lagi saling menunjuk hidung untuk mencari kambing hitam atas kondisi yang kian memprihatinkan ini. Saatnya seluruh komponen bangsa  terlibat dan bergerak menentukan solusi guna menyelesaikan “krisis” pendidikan saat ini.

Mengembalikan roh pendidikan karakter yang selama ini seakan lenyap dari dunia pendidikan, menjadi langkah penting pertama yang harus diapresiasi. Pendidikan karakter secara teori merupakan pengintegrasian antara kecerdasan intelektual dan akhlak mulia.

Pendidikan karakter dengan ditopang penguatan nilai-nilai moral dan budaya bangsa, sangatlah penting dijadikan basis utama penyelenggaraan pendidikan. Pembelajaran karakter kebangsaan haruslah terus dilakukan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Lagi-lagi, semua pihak harus terlibat. Tak boleh hanya diserahkan kepada lembaga pendidikan dan pemerintah. Sebab penguatan pendidikan karakter secara implementatif tidak dapat dilakukan transfer ilmu pengetahuan semata atau  pelajaran kepada para siswa dan mahasiswa.

Menopang dan mengokohkan proses-proses itu, butuh peran semua pihak, mulai dari lingkungan keluarga di rumah, lingkungan sekolah, kampus, hingga lingkungan yang lebih luas.

Sangatlah dibutuhkan keteladanan, bimbingan, pembinaan dan pembiasaan atau pembudayaan yang ditunjang oleh iklim lingkungan yang kondusif. Jika semua elemen masyarakat terlibat, nilai-nilai moral dan pendidikan karakter kita dan generasi berikutnya tak perlu lagi tersandera teori atau berkutat dengan slogan-slogan semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here