Menguak Kebenaran Lewat Berita

Masih Ingat cerita tentang ibu Saeni atau banyak orang memanggilnya ibu Eni. Dia beberapa waktu lalu menjadi sorotan media, baik yang elektronik, cetak maupun media sosial lainnya. Berita tentang warung makan miliknya yang dagangannya disita oleh para petugas Satpol PP karena berdagang di bulan  di bulan Ramadhan. Berita ini langsung menjadi topik yang hangat dan terus-menerus disorot media.Dalam sekejap, berita ini tersebar ke penjuru Nusantara. Siapa pun pasti mengenal sosok Saeni, si penguasa rumah makan atau warteg. Dengan kata lain media begitu menguasai informasi ini, sehingga dapat dengan mudah menyebarkannya. Cerita yang dimulai dari kehidupan pribadi ibu Eni, keberadaan rumahnya, warungnya, dan kesehariannya pun tidak luput dari sorotan para pemburu berita.
Di sisi lain, sorotan negatif terhadap para petugas Satpol PP Kota Serang, dan pejabat di atasnnya, tak lepas dari pandangan media. Muncullah kontroversi, keberpihakan dalam pemberitaan ini.
Banyak orang pun akhirnya bersimpati kepada pengusaha warteg ini. Masyarakat yang tegerak membantu, mengulurkan tangan memberi sumbangan. Tak luput bantuan pun datang dari Presiden Joko Widodo.
Ratusan juta rupiah terkumpul dalam waktu sekejat. Di sini kembali kita melihat kedahsytan media yang bergerak dengan nuansa menggugah, membujuk, atau mempengaruhi pembacanya, sehingga muncul rasa iba dan simpati, dan akhirnya membantu ibu Eni.
Tingginya frekuensi pemberitaan, tentang ibu Eni ini, dibarengi dengan tema-tema lainnya, membuat pemberitaan yang disajikan menjadi begitu kaya dan beragam. Namun persoalannya, mampukah media meredam serangan lain yang muncul sebagai akibat dari simpati yang boleh dikatakan oleh sebagian orang “berlebihan” terhadap si korban.
Banyak kasus seperti ini yang juga memperlihatkan betapa media menyajikan berita dengan berbagai tema atau “angle” berita yang beragam. Ujung-ujungnya terbentuk opini, tentang peristiwa tertentu.
Nah dalam kasus Ibu Eni ini, salah satu “angle” terbaru yang muncul adalah bahwa dia ternyata “berpura-pura” hidup seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media. Ternyata dia oleh beberapa kalangan di daerah Cikepuh, Kecamatan Serang, Kota Serang, adalah pengusaha yang memiliki tiga warteg, alias seorang juragan warteg.
Ini pun akhirnya menjadi sebuah kontroversial yang perlu dibuktikan kebenarannya. Ibu Eni pernah berkata, tuduhan itu tidak benar. Tetapi warga lain mengatakan dia memiliki tiga warteg itu benar. Kontroversi ini sebenarnya menjadi menarik. Mengapa menarik, sebab diharapkan akan menjadi berita yang sama besarnya dengan kasus pertama kali barang dagangannya disita para petugas Satpol PP.
Tetapi nyatanya, setelah berita terakhir ini mengemuka, ternyata gaungnya tidak seheboh, kasus penyitaan. Mengapa? Ada beberapa hal menarik dari cerita ibu Eni ini. Pertama, temuan terakhir ini mungkin dianggap sebagai “bumbu” dari beberapa pihak yang tidak senang dengan kasus penyitaan yang berdampak pada pemerintahan kota setempat.
Kedua, nama ibu Eni sudah lebih dulu menjadi nama besar atau ikon dari orang yang mendapat perlakuan tidak benar dari pejabat setempat. Dengan kata lain orang kecil yang disakiti oleh pihak penguasa. Mungkin di kalangan media tertentu, ibu Eni sudah menjadi ikon yang melambangkan bentuk kesewenang-wenangan pemerintah setempat terhadap warganya. Atau bisa jadi, nama ibu Eni di media sudah tidak dapat dibendung lagi, sehingga apa pun bukti atau kenyataan terbaru, tidak begitu mempengaruhi reputasinya yang kini sudah menjadi ikon.
Ketiga, kasus ini, masih akan berlanjut. Namun siapa yang harusnya menyatakan bahwa semua data dan fakta itu benar. Benarkan dia hanya pengusaha warteg biasa, benarkan dia memiliki tiga warteg, benarkah dia berpura-pura hidup apa adanya?
Yang mungkin bisa menjawab itu semua adalah media sendiri. Mengapa, karena media memiliki sistem dan pola kerja yang mampu menguak kebenaran. Artinya, kalau memang media mengawali semua ini, maka media pula seharusnya mengakhirinya. Liputan berita yang bijak, dan berimbang, adalah cara untuk mengatasi hal itu. Bijak dalam arti, menghargai dan memperhatikan pihak-pihak yang sepatutnya menjadi bagian dari pemberitaan itu. Bijak pula dalam membuka informasi ke masyarakat. Menghargai semua unsur dan elemen masyarakat, menjadi salah satu kata kunci, dalam menguak kebenaran dalam kasus pemberitaan ibu Eni. Dan perlu diingat bahwa hal-hal seperti itu sebenarnya sudah ditunjukkan oleh media di negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here