Menikmati Kopi Produk Dalam Negeri

Asiang sedang meracik kopi (Foto-foto: JX/Iman Sjahputra)

PONTIANAK, JIA XIANG – Bagi mereka yang penikmat kopi di dunia memang berbagai cita rasa kopi bisa dibedakan. Jenis kopi Arabica tentu beda rasa dengan kopi Excelsa. Demikian juga kopi Liberika, harum dan wanginya tidak akan sama dengan kopi Robusta.

Di  Indonesia sendiri, dari jenis kopi Arabica telah ditemukan di berbagai daerah seperti kopi dari Aceh (Gayo), Mandaling (Sumut), kopi Kintamani (Bali), kopi Jawa dan kopi Luwak. Maka tak heran,  banyak kedai kopi tradisional dan modern bermunculan dengan aneka merek dagang di bumi Nusantara ini.

Dari sekian banyak warung kopi  di Indonesia, tentu saja tidak sedikit  yang menjadi tersohor. Sebut saja di kota Banda Aceh, dikenal   warung kopi tradisional Solung dan Dhapu Kupi yang selalu mendapat kunjungan ramai dari para penyuka kopi.

Tidak bedanya dengan warung Kok Tong Kopi dan Sedap di kota Pematangsiantar, Sumut. Kedua kedai kopi tradisional ini telah mempunyai jam “terbang tinggi” dan  nilai sejarah berdirinya rata-rata di atas  50 tahun, sehingga banyak didatangi tamu dari luar dan dalam kota. Bahkan warung Kok Tong kopi  telah memberi franchise pada beberapa pengusaha untuk bergabung dalam mengembangkan sayap di beberapa  kota di Indonesia, dengan sistem dan design yang lebih modern kedai kopinya.

Kedai berusaha memasarkan bubuk kopi dengan packaging yang unik untuk berbagai daerah. Lain dari pada itu di kota Pontianak, Kalimantan Barat ada 2 (dua) kedai kopi tradisional yang punya nama. Warung Kopi Asiang, yang ada di Jalan Merapi selalu penuh dengan pengunjung dari pukul 03.00 sampai dengan  15.00.

Sebagai pelakon utamanya, Asiang, yang berdiri di depan dapur kopi untuk meracik kopi, mencampur bubuk kopi serta menuangkan air panas pada kopi yang dipesan oleh tamu. Tidak henti-hentinya Koh Asiang menunjukan kepiawaan dalam menaksir takaran bubuk kopi yang dimasukkan pada gelas dan tidak perlu dicoba terlebih dahulu cita rasanya.

Semua kopi yang dibuatnya terasa pas  dan enak. Uniknya Asiang tidak pernah memakai baju alias bertelanjang dada, dari pagi sampai siang, dalam melayani tamu yang silih bergantian datang untuk menyeruput kopi yang dibuatnya.

Harga yang dibandrol untuk secangkir kopi hanya Rp 5.000. Warung kopi yang telah dibuka sejak tahun 1958 oleh ayah Asiang memang telah membawa berkah buat Asiang. Kini dengan dibantu oleh dua anak dan isterinya,  warung kopi Asiang semakin hari semakin jaya di Kota Pontianak. Tidak hanya kaum awam yang duduk di sana untuk minum kopi dan kongkow-kongkow.

Para pejabat dan elite profesional sering mengunjungi kedai koh Asiang untuk  berbiicara soal bisnis sebelum berangkat kerja. Lain warung kopi Asiang, lain pula Kedai Kopi Aming, kopi Aming tidak dibuat, diracik dan dituangkan sendiri oleh Aming, melainkan oleh bebarapa pegawai yang bertugas di depan dapur kopi.

Mereka yang mengaduk, mencampurkan serta menuangkan air  dari teko besar pada cangkir yang telah dipersiapkan. Meskipun bukan Aming yang langsung turun tangan membuat kopi, tapi kedai kopi ini laris manis dan kopi yang diseduh enak rasanya.

Menurut Jia Xiang Hometown yang mencoba kedua warung kopi ini baru-baru ini, masing-masing rasa kopinya mempunyai ciri khas tersendiri. Yang paling beda adalah kopi Aming mempunyai beberapa biji kopi yang utuh dalam setiap cangkir kopi. Tidak salahnya untuk mencoba kedua warung kopi ini bilamana berkunjung ke kota  Pontianak. [JX/Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here