Menikmati Suasana 700 Tahun Silam di Kota Tua Li Jiang

Berada di Kota Tua di Li Jiang, Yunan, Tiongkok, serasa berada di ratusan abad silam. (Foto-foto: JX/Iman Sjahputra)

LI JIANG, JIA XIANG – Salah satu destinasi wisata populer di Yunan, Tiongkok, adalah kota Li Jiang. Kota ini  berada 2.400 M  (meter) di atas permukaan laut. Luasnya diperkirakan 3,8 km meter persegi. Dan kota ini mempuyai beberapa objek wisata yang patut dikunjungi oleh wisatawan. Salah satunya adalah Kota Tua (Old Town).

20160417_191758Kota Tua ini terletak di tengah Kota Li Jiang. Umumnya penduduk sekitarnya mengenal  kota ini dengan  nama  Square Street. Awalnya Kota ini dinamakan “Gong Ben Zhi”, yang dalam bahasa suku Naxi adalah pergudangan; kampung dan pasar.

Suku Naxi telah tinggal di Kota Tua turun-temurun. Di sini, mereka hidup dari hasil membuka toko kecil. Mereka berjualan makanan sehari-hari, souvenair  dan menyewakan rumahnya sebagai tempat penginapan.

Kehidupan suku Naxi sangat sederhana. Warganya juga sangat ramah terhadap tamu yang mengunjunginya. Banyak rumah penduduk disewakan kepada wisatawan yang menginap selama dua hingga tiga hari, sehingga dapat menambah penghasilan mereka. Harga sewa kamar berkisar kurang lebih Rp 300.000 ribu sampai Rp 1.000.000. Semua bergantung pada tipe kamar yang dipesannya.

Beberapa waktu lalu Jia Xiang berkesempatan mengunjungi dan bermalam di salah rumah penduduk warga Kota Tua ini. Sambutan pemilik rumah sangat ramah. Para tamu yang datang disambut dengan hidangan minuman teh. Kemudian para tamu diajak dan diperlihatkan bagaimana kebiasaan mereka meracik teh untuk disuguhkan ke wisatawan yang menginap.

20160420_080936Umumnya rumah penduduk yang disewakan  di sini berlantai 2. Dan  kebanyakan bangunannya adalah hasil peninggalan masa lampau. Beberapa rumah tampak telah direnovasi, tapi desain dan struktur bangunanya tetap seperti zaman dulu, yang merupakan perpaduan bangunan budaya Suku Han, Bai dan suku Tibet.

Kota Tua yang dibangun oleh Dinasti Ming telah mempunyai nilai sejarah sangat tinggi karena berusia 700 tahun.  Saat berjalan di Kota Tua ini seolah-olah wisatawan menyelami sejarah   zaman dulu dan hidup pada masa lalu. Wisatawan dalam hal ini dapat memperhatikan bangunan yang sudah kuno sekali, seperti sambungan bangunan  kayunya tanpa paku dan baut. Secara keseluruhan harus diakui adanya kelihaian, keahlian dan kemampuan dari para arsitektur dan sipil pada saat itu untuk merancang dan membangun bangunan kuno yang tanpa pagar.

Yang tak kalah menarik, warga di sini sangat menjaga kebersihan kotanya. Tak terlihat sampah tercecer di sepanjang jalan Kota Tua.  Sampah rumah tangga dikelola dengan baik. Setiap hari  ada mobil pengangkut sampah dengan kode nyanyian, sehingga memudahkan interaksi dengan warga bahwa mobil angkut sampah datang.

Begitu pula pengelolaan air kotor. Semua tertata rapih, sehingga tidak sampai menimbulkan aroma kurang sedap. Maka tak heran, wisatawan yang datang menjadi betah untuk berlama-lama. Padahal wisatawan yang masuk ke kota Tua dipungut biaya 80 yuan. (1 yuan =Rp 2.200). Namun wisatawan mendapatkan pelayanan baik selama berlibur di sini. [JX/Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here