Menjaga Kerukunan

Oleh : Iman Sjahputra

Ketika berbicara pada Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia, Selasa (23/5/17)  Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa negara lain iri pada Indonesia,  karena dianggap berbeda-beda dari berbagai segi namun tetap rukun, penuh toleransi, penuh persaudaraan, dan persatuan.

Bahkan Presiden, pada setiap bertemu presiden atau kepala pemerintahan negara lain, selalu menceritakan tentang keberagaman Indonesia yang memiliki 17.000 pulau, 516 kabupaten dan kota, serta  34 provinsi dengan lebih dari 700 suku, 1.100 lebih bahasa lokal . Tidak ada di negara mana pun di dunia ini begitu beragam seperti Indonesia, termasuk beragam agama.

Dengan kata lain, negara lain kagum akan kerukunan di  Indonesia selama 72 tahun merdeka, tidak pernah menghadapi persoalan berkaitan dengan keberagaman.

Diakui bahwa dinamika kehidupan bermasyarakat  di Indonesia sesekali muncul sedikit gesekan.  Tetapi gesekan kecil itu segera diselesaikan, sehingga menjadi pembelajaran yang mendewasakan masyarakat.

Intinya sekarang adalah di negara yang beragam ini, kerukunan menjadi salah satu kunci utama. Kerukunan yang  terjaga menciptakan stabilitas negara yang baik pula.  Adanya guncangan sudah pasti dapat mengganggu kerukunan, akibatnya stabilitas negara pun terancam. Dalam kondisi seperti ini, semua pihak tidak mampu menjalankan fungsi dan tugas masing-masing dengan baik, sebab selalu diganggu oleh keadaan yang tidak pernah menunjang.

Dalam membangun negara yang sejahtera, apalagi di era modern sekarang ini, kita sudah menjadi bagian dalam persaingan global. Mau atau tidak, kita harus menghadapi persaingan itu. Persaingan global ini membawa aneka nilai, bukan saja nilai-nilai ekonomi, tetapi juga budaya, etika, dan paham lain bisa jadi mengancam nilai-nilai yang sudah ada di negeri kita.

Karena itu, persaingan global ini menuntut kita untuk lebih waspada lagi. Bukan tidak mungkin, kita juga terbuai oleh nilai-nilai dari luar yang dianggap lebih baru, modern, sesuai perkembangan dan kekinian. Lunturnya nilai-nilai budaya bangsa, yang sepatutnya kita pertahankan, akhirnya membuat kita  selalu berpikir praktis hanya untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Hanya fokus pada membela kepentingan diri dan kelompok sendiri inilah yang belakangan ini justru terjadi di negeri kita tercinta ini. Apalagi muncul anggapan, siapa yang tidak sejalan dengan pemikiran kelompok tertentu, dianggap sebagai musuh.  Akibatnya muncul kedengkian, iri hati, saling hujat, dan yang membuat kita makin prihatin adalah begitu menyalahkan orang lain hanya untuk membela kepentingan orang atau kelompok tertentu.

Namun Presiden Joko Widodo pun mengingatkan bahwa jangan habiskan pikiran kita untuk hal-hal yang menyebabkan iri, dengki, saling hujat, menjelekkan, dan menyalahkan.

Memang benar, memikirkan pada hal-hal yang tidak produktif itu justru membuat kita lelah fisik dan psikis. Bagaimana mau membangun bangsa, kalau semua sudah letih mengatasi hal-hal yang menghambat  dan mengganggu kerukunan dan stabilitas?

Untuk itu, diharapkan semua pihak merapatkan barisan dalam membangkitkan kembali nilai-nilai moral sesuai dengan etika dasar bangsa ini. Semua itu, tidak lain hanya untuk mewujudkan kerukunan dan stabilitas nasional.

Jadi, gesekan atau percikan sekecil apa pun, yang mengganggu kerukunan dan stabiltas, harus secepat mungkin diatasi. Jangan serba menunggu, ada komando dari pemimpin tertinggi, baru bertindak.

Yang perlu diingat juga adalah jangan kita biarkan percikan itu membesar, jangan biarkan pula orang dengan mudah menghujat orang lain tanpa rasa hormat dan takut pada hukum. Tak perlu disebutkan kasusnya, sekarang  hal itu sudah terjadi di mana-mana.  Namun apa tanggapan aparat penegak hukum?

Terkesan berbagai gejolak itu tidak direspons dengan serius. Masyarakat pun menunggu apa langkah hukum bagi mereka-mereka yang begitu mudah menghujat, menjelek-jelekan, dan menghina orang lain.

Kembali ke persoalan semula, apa hal ini mau terus berlarut-larut, hingga menjadi “api” yang terlanjur  membakar negeri ini? Tentu semua pihak tidak mau ini terjadi.

Karena itu, dukungan moral Presiden untuk tetap menjaga kerukunan dan stabilitas negeri ini, menjadi tugas utama yang harus direspons cepat melalui jalur hukum. Tanpa tindakan cepat dan cermat, negeri ini akan runtuh. Apalagi menjelang pemilu 2019, semua gesekan yang sekarang terjadi, bisa kembali terulang, bahkan bisa lebih besar dari yang ada saat ini.

Berbagai kepentingan politik akan bermain lebih jauh. Jangan sampai segala hal pun dihalalkan hanya untuk kepentingan diri dan kelompok sendiri. Padahal di negeri ini kita tidak hidup sendiri, tetapi bersama orang lain yang berbeda suku, agama, bahasa daerah, dan pandangan, yang juga menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini.

Jadi, mari kita bangun negeri ini berdasarkan kerukunan dan stabilitas yang mampu membawa kita semua bersaing di tingkat  global dengan benteng nilai-nilai budaya bangsa sendiri yang juga memiliki nilai toleransi tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here