Menjaga Moral

Boleh saja berbagai komentar muncul atau sengaja dimunculkan. Boleh saja dugaan dan asumsi dilontarkan. Tetapi ketika ada sebuah tindakan positif yang dipublikasikan, semestinya harus ditanggapi positif pula yang tentunya tetap harus dalam paradigma kritis konstruktif.

Kita tidak boleh mencibir ketika sebuah “janji moral” dicetuskan oleh seseorang atau kelompok. Kita harus melihatnya sebagai langkah perbaikan, sekalipun itu dilakukan oleh orang yang selama hidupnya selalu berperilaku kurang sesuai asas kepatutan yang berlaku menurut ukuran “norma masyarakat” yang umum.

Sejauh janji moral itu punya “nilai” tentunya patut kita apresiasi dengan praduga positif, yang artinya kita tetap mengkritik bila ternyata janji itu hanya dibibir saja, lantaran janji tersebut tidak dilakukan sepenuh hati.

Begitu juga kiranya dengan langkah yang diambil oleh Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang “mengambil alih” kepemimpinan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Banyak hal yang bisa diinterpretasikan dengan kejadian pengambilalihan itu, lebih-lebih dengan poin yang dikemukakan Susilo Bambang Yudhoyono  dalam jumpa  pers yang dilakukannya selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat pada Jumat (08/02/13) yang bisa diterjemahkan sebagai upaya mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang mendera partai.

Beberapa poin yang dilansir, Ketua Dewan Pembina Partai antara lain menyatakan, memberikan kesempatan kepada Anas Urbaningrum untuk menfokuskan diri dalam menghadapi masalah hukum yang sedang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selanjutnya menyangkut jalannya roda partai, segala keputusan, kebijakan dan tindakan ditentukan dan dikendalikan langsung oleh Majelis Tinggi Partai (MTP).

Atas keputusan MTP itu, selanjutnya semua kader Partai Demokrat harus tunduk pada putusan atau perubahan kebijakan ini dan jika ada yang tidak tunduk atau tidak nyaman menerima supaya keluar dari partai. Dan yang tidak kalah penting adalah, adanya kewajiban seluruh kader untuk menandatangani pakta integritas dengan tenggat waktu hingga akhir Feruari 2013.

Ada yang bisa kita petik dari peristiwa dalam tubuh Partai Demokrat ini, terlepas ini  bagian dari “permainan politik” atau hanya sebuah pencitraan partai yang pamornya tengah melorot. Namun dari keputusan itu ada kesan bahwa elite partai sekalipun harus tunduk kepada moralitas serta hukum yang berlaku.

Begitu juga dengan keharusan menandatangani pakta integritas yang diusung ketua MTP, lepas dari efektif atau tidak dalam pelaksanaannya, namun kita harus melihat bahwa masih ada sebuah kemauan untuk berperilaku baik dari sebuah partai sebagai bagian dari wadah untuk menyalurkan aspirasi. Bukankah idealnya partai harus menjadi saluran aspirasi rakyat?

Kita bisa menilai, bahwa sesungguhnya yang ingin diambil dari langkah Ketua MTP Partai Demokrat itu adalah bahwa seluruh kader partai harus memiliki  “rasa malu” dan “taat hukum” serta “mawas diri”. Kader partai harus punya integritas diri, jika mau menjadi perpanjangan lidah masyarakat.

Persoalannya, penandatanganan pakta integritas tidak bermakna apa-apa jika tidak dikuti oleh kemauan hati. Sejatinya integritas seseorang itu tidaklah ditentukan oleh sebuah pakta, melainkan lebih ditentukan dari diri sendiri.

Tanpa pretensi menyudutkan Anas Urbaningrum yang seakan “kekuasaanya” selaku ketua umum partai “dipreteli” itu, ataupun membela keputusan Ketua MTP Susilo Bambang Yudhoyono, rasanya semua partai politik termasuk birokrat di negeri ini sudah sepatutnya kembali menyengarkan kader-kadernya, terlebih kalangan elitenya untuk mengikuti langkah Partai Demokrat menandatangani pakta integritas sebagai “rem moral”.

Sebab boleh jadi lemahnya penegakan hukum di negeri ini lantaran kita tidak mengerti lagi apa itu integritas. Lebih-lebih di tahun ular saat ini, jika seseorang tidak memiliki integritas, maka yang muncul adalah sifat-sifat negatif dari seekor ular yang sangat piawai mencari kesempatan kapan mematuk dan membelit mangsanya. [Iman Sjahputra]

SHARE
Previous articleAbsen!
Next articleImlek bagi Bangsa Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here