Menteri Pariwisata Berharap Desa Wisata Miliki Homestay Khas Daerah

JAKARTA, JIA XIANG – Menteri Pariwisata  (Menpar) Arief Yahya mengapresiasi para arsitek yang telah mendesain rumah wisata atau homestay di 10  destinasi wisata prioritas. Karya terbaik mereka, karena memenangi Sayembara Arsitektur Nusantara untuk homestay, dapat diwujudkan sehingga di tempat-tempat wisata itu  mengesankan para wisatawan karena kekhasan daerah masing-masing.

“Kebetulan kami bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  (PUPR) juga akan membangun 100.000 homestay di destinasi, maka Sayembara desain itu difokuskan untuk homestay,” papar Arief Yahya dalam sambutannya menutup ajang lomba berhadiah total Rp 1 miliar di Jakarta, Selasa (26/10/16). Hadir dalam acara ini Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan budayawan Jaya Suprana.

Ada beberapa alasan dia hendak mewujudkan karya terbaik para arsitek itu di masing-masing daerah. Pertama, sektor tourism itu mirip dengan telecommunication dan transportation, yang biasa disebut dengan 3T. Di Telco ada istilah Budget Telco atau budget operator dan sudah menjadi basic need atau kebutuhan dasar dengan system pre paid atau biaya abonement kecil. Di transportasi ada sebutan LCC atau Low Cost Carrier, airlines yang berbiaya ekonomis, seperti Citilink, Air Asia dan Lions. Di tourism pun akan didorong membangun lebih banyak LCT Low Cost Tourism dalam akomodasi, yang sering disebut homestay atau rumah wisata.

Bahkan, Menpar sudah mempresentasikan konsep LCT itu ke markas UNWTO –Lembaga PBB yang bergerak di bidang Pariwisata—di Madrid Spanyol, bersama tim sembilan Board of Directors-nya yang dipimpin Sekjen Taleb Rifai. Jika 100.000 homestay itu sukses terbangun hingga 2019, paparnya, maka target kapasitas akomodasi untuk menampung wisatawan bisa terpenuhi.

“Kedua, inilah yang kami sebut dengan sharing economy atau bahasa Pak Presiden Joko Widodo disebut Ekonomi Gotong Royong,” jelas Arief.

Bila Desa Wisata – konsep yang dimiliki Kemendes PDT, lanjutnya, ada 70.000 desa. Maka, jelasnya, homestay itu bisa diduplikasi lebih banyak lagi dengan business to business (B to B).

Ketiga, papar Arief,  sistem pemasarannya pun akan dibuat dengan Go Digital. “Kalau di transportasi ada Gojek dan Grab, maka di Tourism ini Homestay, AirBnB, dan dijual menggunakan platform ITX Indonesia Travel Xchange. Sebuah Digital Market Place tempat untuk mempertemukan demand dan suplay dalam satu platform,” kata Arief Yahya.

Dengan model Low Cost Tourism itu, dia yakin akan cepat mendorong prinsip dasar, bahwa Pariwisata itu sudah menjadi kebutuhkan pokok. Selain, sandang, pangan, perumahan, wifi dan piknik alias berwisata. Karena harganya semakin murah, semakin terjangkau, dan tetap bisa berwisata ke destinasi yang dibangun aksesnya oleh pemerintah.

“Nanti ada Manajer Homestay, dibuat per cluster, yang diharapkan bisa dikelola oleh anak-anak lulusan Sekolah Pariwisata, dan akan menjadi kurikulum sendiri untuk Homestay Operator,” papar Menpar menjelaskan dua pertanyaan bagimana menajemen 100.000 homestay itu, dan bagaimana membuat standarisasi layanan?

Dia berharap para kepala daerah yang wilayahnya masuk dalam destinasi wisata prioritas menggunakan desain arsitektur nusantara yang saat ini sudah ada pemenang-pemenangnya setiap wilayah. “Nanti, semua yang baru dibangun menggunakan desain itu. Seperti Desa Wisata, Bandar Udara, Rumah Wisata, Toilet Bersih, Kantor Pemerintahan, agar budaya arsitektural lokal bisa mewarnai dan menjadi atraksi wisata tersendiri,” tutur Menpar.

Adapun para pemenang sayembara itu antara lain: Tim PT Realline Studio, Ketua Tim Deni Wahyu Setiawan dengan judul karya Jabu Na Ture (Danau Toba). Tim Alvasara Ketua Tim Gigih Nalendra dengan judul karya Thin House (Tanjung Kelayang). Tim Arsitek Ketua Tim Edwin Adinata dengan judul karya New Gateway to Adventure In The West Eage Of Java (Tanjung Lesung). Tim PT Urbane Indonesia Ketua Tim Aditya Wiratama dengan judul karya Titik Temu (Kepulauan Seribu), PT Urbane Indonesia Ketua Aditya Wiratama dengan judul karya Gnomon Urip (Borobudur). Tim PT Grahaciota Ketua Tim Verena Rafaela dengan judul karya Dusun Guyub Bromo (Bromo Tengger). Universitas Mercu Buana Ketua Tim Wendi Isnandar dengan judul karya Rumah Separo Mandalika (Mandalika). Tim Blur Architec and Design Studio Ketua Tim Rizki Bhaskara dengn judul karya Naung Kampung Papagaran (Labuan Bajo). Tim PT Airmas Asri Ketua Tim Kalvin Widjaja dengan judul karya Roma Boe (Wakatobi), dan yang terakhir PT Studio Tanpa Batas Ketua Tim Wijaya Suryanegara Yapeter dengan judul karya Rumahku a Home to Stay (Morotai).

Sementara budayawan Jaya Suprana, yang juga Ketua MURI, menyerahkan plakat rekor MURI kepada Menpar Arief Yahya, Kepala Bekraf Triawan Munaf, Founder Propan Hendra Adidharma. “Lomba ini bukan rekor Indonesia. Saya putuskan sayembara arsitektur Nusantara ini mendapatkan Rekor MURI, Museum Rekor Dunia Indonesia,” ucapnya. [JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here