Menuju Demokrasi yang Berkualitas

Oleh : Iman Sjahputra

Menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta, atau katakan saja setiap menjelang pemilihan kepala daerah, selalu ada saja berbagai hal yang muncul, membuat suasana menjadi “panas”. Banyak hal yang dilakukan oleh para calon atau tim pemenangan untuk membuat lawan menjadi terpojok, terkapar, dan kalau bisa tidak berkutik lagi.

Cara itu mulai dari aktivitas yang paling ringan, sampai kepada yang bersifat pribadi. Bahkan yang selalu muncul adalah kampanye hitam. Dari namanya saja kita sudah dapat menerka bahwa ini adalah langkah yang menjurus ke nuansa negatif.

Menurut kamus Kampanye Politik,  kampanye hitam ini adalah penggunaan metode rayuan yang merusak, sindiran atau rumors yang tersebar mengenai sasaran kepada para kandidat atau calon kepada masyarakat agar menimbulkan persepsi yang dianggap tidak etis terutama dalam hal kebijakan publik.

Komunikasi ini diusahakan agar menimbulkan fenomena sikap resistensi dari para pemilih. Kampanye hitam ini umumnya dapat dilakukan oleh kandidat atau calon, termasuk pihak lain yang pada dasarnya menjalankan langkah ini akibat kekurangan sumber daya untuk menyerang salah satu kandidat atau calon lain. Kampanye seperti ini pada dasarnya adalah mencoba memainkan emosi para pemilih, supaya akhirnya berpendapat negatif terhadap calon lain, yang ujung-ujungya  meninggalkan calon pilihannya.

Sejak awal kondisi seperti ini sudah terasa menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Walau pun pemilihan kepala daerah baru dilakukan tahun depan, tetapi manuver dan berbagai upaya menjatuhkan lawan sudah terjadi dan kondisi ini mungkin masih akan terjadi juga. Apalagi pesta demokrasi ini adalah bagian dari peristiwa politik yang selalu diwarnai dengan sikap dan langkah kontroversial. Di arena ini yang namanya perebutan kekuasaan, bila tak terkendali pasi akan merusak semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, bagi para calon gubernur di DKI misalnya, harus bisa menjaga sikap dan perbuatannya menjelang dan selama masa kampanye hingga ke hari H, waktu pencoblosan. Salah langkah sedikit saja, membuat mereka tergelincir. Banyak contoh bisa dilihat di negara ini, para korban kampanye hitam. Hal ini juga yang membuat calon gubernur petahana DKI Jakarta, Ahok, “tergelincir” dengan ucapannya ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu.

Namun kemudian Ahok pun meminta maaf. Tetapi persoalannya tidak selesai di situ. Serangan, kecaman dan kritikan pun masih berlangsung terhadap dirinya.  Karena itu, peristiwa ini menjadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin maju dalam Pilkada.  Bukan hanya bagi para calon, tetapi juga tim pemenangan setiap calon.

Bermain jujur, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila adalah kunci keberhasilan dan suksesnya pemilihan kepala daerah yang demokratis. Meningkatnya kualitas demokrasi di negara ini tidak lepas dari peran para politisi,  calon, dan tim sukses, serta simpatisan.

Karena itu dalam “pertandingan” menuju pesta demokrasi yang lebih berkualitas, sebaiknya Hindari segala bentuk kampanye yang menyesatkan, tetapi mari beradu program kerja untuk membangun Jakarta lebih baik lagi. Sebagai bagian dari negeri tercinta ini, maka mari kita menjalankan pesta demokrasi ini dengan mengedepankan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan  UUD, sambil menghargai kebhinekaan di negeri kita ini.

Ini yang sepatutnya dijadikan landasan utama dalam mencapai demokrasi yang lebih berkualitas, bukan demokrasi sesuai keinginan diri sendiri atau golongan tertentu, tetapi demokrasi yang mengedepankan kepentingan, kesejahteraan, kemajuan bangsa dan negara.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here