Menunjukkan Kedaulatan Negara

Upaya berdiplomasi melalui berbagai saluran negosiasi tidak kunjung selesai. Sampai kini, pemerintah Indonesia pun belum mendapat izin dari Filipina untuk bisa membebaskan 10 WNI, yang disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf, melalui operasi militer.

Adalah tanggal 8 April 2016 menjadi tenggat waktu bagi pemerintah Indonesia untuk menyerahkan tebusan, sekitar Rp 15 miliar, untuk membebaskan 10 WNI itu.  Namun selepas tanggal itu, tak terlihat apa pun terjadi, tebusan tak terkabulkan, negosiasi dengan pemerintah Filipina, tak kunjung selesai, dan yang lebih menyedihkan adalah nasib para sandera yang mungkin tidak diketahui dengan jelas.

Bagi keluarga WNI yang disandera itu, sampai kini juga belum ada informasi apa pun, baik dari pihak pemerintah maupun perusahaan tempat  10 WNI itu bekerja.

Pantaslah, para orangtua awak kapal  itu merasa cemas, sedih, bingung, dan prihatin. Setiap hari mereka harus menunggu kejelasan nasib para awak kapal itu, setiap hari dipenuhi tanda-tanya besar, soal nasib keluarga mereka itu.

Yang pasti Presiden Joko Widodo masih terus berkomunikasi dengan pemerintah Filipina maupun pihak Abu Sayyaf dalam upaya membebaskan 10 WNI tersebut.  Sementara berbagai berita  pun berkembang seputar upaya pembebasan itu termasuk melibatkan  Umar Patek, terpindana teroris.

Terlepas dari keterlibatan berbagai pihak dalam upaya pembebasan itu, sebenarnya Indonesia mampu mengatasi berbagai negosiasi seperti ini di tingkat internasional. Berbagai pengalaman telah membuktikan keampuhan para diplomat  Indonesia dalam bernegosiasi. Namun persoalannya, apakah sekarang bangsa kita sendiri mau mengandalkan kemampuan itu?

Bukan cuma kemampuan negosiasi saja, tetapi nama Indonesia di lingkungan Asia Tenggara bukan baru. Kepemimpinan Indonesia, teladan, dan upaya mempersatukan dan menjadikan organisasi di Asia Tenggara yang kokoh menjadi modal untuk menunjukkan bahwa kita ini mampu mengatasi berbagai persoalan di tingkat regional.

Khusus bagi Filipina, Indonesia bukan negara asing. Pada 1993 Organisasi Konferensi Islam (OKI) menunjuk Indonesia menjadi Ketua Komisi penyelesaian masalah Moro di Filipina Selatan. Indonesia pun terlibat dalam lima kali perundingan antara pemerintah Filipina dan Front Nasional Pembebasan  Moro (MNLF) tahun 1993-1996. Satu perundingan di Cipanas, dan lima di Jakarta.

Dan ketika perundingan di Jakarta 30 Agustus 1996 akhirnya perjanjian damai ditandatangani oleh pemerintah Filipina dan MNLF, serta Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Perjanjian itu ditandatangani lagi di Manila 2 September 1996.

Belajar dari pengalaman itu, jelas Indonesia memiliki bekal kuat untuk bisa meyakinkan pemerintah Filipina soal pembebasan WNI terseburt. Hanya saja, sepak terjang dalam negosiasi saat ini, banyak orang tidak mendapat informasi yang memadai. Tidak ada tanda-tanda dibentuk tim bersama Indonesia-Filipina, misalnya, untuk pembebasan sandera ini.

Bahkan tidak terdengar pula adanya koordinasi dengan negara lain, yang katanya ada beberapa warga asing sudah lebih dulu disandera oleh Abu Sayyaf.

Bagi pemerintah Indonesia, dua opsi dalam negosiasi yaitu membayar tebusan dan operasi militer, benar-benar sudah  siap. Dengan kata lain, bila ada lampu hijau terhadap salah satu opsi itu, Indonesia siap melaksanakannya.

Yang pasti kita harus menerima dampak apa pun dari hasil perundingan yang sedang dilaksanakan.  Sebab dua opsi yang ditetapkan itu memiliki dampak, baik positif maupun negatif. Hanya sekarang semua bergantung dari pemerintah dan keseriusan pemerintah menuntaskannya, agar di masa depan tidak ada satu pihak pun, termasuk kelompok teroris, yang mempermainkan begitu mudah kewibawaan bangsa dan negara kita melalui berbagai aksi kejahatan.

Saatnya kembali menunjukkan bahwa kita bangsa yang tidak begitu mudah dipermainkan oleh pihak asing, siapa pun. Saatnya pula kita memperlihatkan kepada banyak pihak di dunia ini, kita mampu mengatasi masalah seperti penyanderaan ini melalui berbagai movement, kalau perlu aksi militer. Memang ini bukan satu-satunya cara, tetapi secara logika, ada saatnya kita memperlihatkan kemampuan dan kehebatan kita mengatasi persoalan ini.  Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi membela bangsa dan negara sendiri, supaya tidak begitu mudah dipermainkan pihak asing mana pun.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here