Menyikapi Tahun yang Baru

Tahun  2012 sudah berlalu, dan kemeriahan pesta  tahun baru 2013  pun sudah usai.  Pada tahun 2012 banyak peristiwa mewarnai kehidupan secara pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Begitu juga dalam konteks negara, banyak kejadian berdampak kepada kehidupan bangsa, termasuk berbagai peristiwa di dunia internasional tidak sedikit yang berdampak kepada kehidupan masyarakat di Indonesia.

Kini kita menjalani tahun 2013 yang juga merupakan tahun ular air yang akan dimulai pada 10 Februari 2013 dan berakhir  30 Januari 2014. Diharapkan, pada tahun  yang telah berlalu itu, segala peristiwa dan pengalaman   bisa dijadikan pelajaran  dalam menatap dan menyongsong tahun 2013 ini.

Pada tahun ini, 2013,  menurut beberapa kalangan akan ada beberapa peristiwa yang tidak terduga, terutama terkait dengan sifat ular itu, seperti  licik, licin, lincah, dan berbahaya. Namun keburukan itu,  dapat kita imbangi dengan sifat air yang tenang dan dapat melalui jalan-jalan sempit untuk bisa mencapai tujuan akhir.

Namun kita dituntut untuk lebih lincah, namun diimbangi dengan sifat kehati-hatian, terutama dalam bersikap dan lebih sabar menghadapi berbagai pristiwa maupun  persoalan yang tidak terduga sebelumnya. Intinya kita dituntut lebih bijaksana dan mau bekerja keras dan cerdas, agar terjadi perubahan yang lebih baik di tahun ular air ke depan.

Bila kita menengok ke belakang maka sudah banyak gejolak atau peristiwa terjadi di tanah air ini.  Berbagai kejadian atau peristiwa  berdarah, sebagai cermin dari meningkatnya suhu politik. Maka dalam menyikapi  aneka peristiwa itu, kita sebagai anggota masyarakat harus bisa bersifat lebih  cerdas, tenang dan sabar.

Hal itu diperlukan guna menghadapi persoalan-persoalan  yang mungkin akan mencuat. Terlebih bila ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan punya tujuan negatif sehingga menciptakan gejolak politik yang bisa berdampak buruk pada kehidupan masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi, budaya, terlebih menjelang pemilihan presiden pada tahun 2014.

Selama tahun 2012 peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air ini memang begitu berwarna, mulai dari pergolakan di tanah Papua yaitu  beberapa kali kasus penembakan,  pemberantasan korupsi, kehancuran karir politisi partai, bencana alam, hingga kekisruhan dunai olahraga menjadi santapan harian bagi media yang senantiasa menyajikannya secara gamblang dan lugas. Di satu sisi, gejolak dan peristiwa itu sangat memprihatinkan banyak pihak. Namun di lain pihak, justru ada “oknum-oknum” tertentu yang merasa senang dan tertawa-tawa melihat kekrisuhan terjadi itu.
Berbagai gejolak dan peristiwa yang menimbulkan kegelisahan warga adalah bentuk gangguan yang bisa setiap saat “meledak” ke dalam wujud yang lebih besar.

Ketidakpuasan dan ketidakmampuan masyarakat  menyalurkan aspirasi di jalur formal juga harus diwaspadai. Sebab kebuntuan saluran aspirasi dapat menimbulkan gejolak. Namun, banyaknya kritik pun bukan berarti beres, apalagi bila kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya tidak ada kemajuan yang signifikan untuk menyejahterakan masyarakat. Bukan tidak  mungkin kritik yang dianggap sepi oleh elite bisa berubah menjadi hal yang kurang menguntungkan bagi kehidupan bangsa dan negara. Dengan kata lain, semakin baiknya perekonomian negara, namun tidak diikuti perkembangan politik yang kondusif, maka kondisi negara secara keseluruhan tidak akan membaik, bisa jadi stagnan.

Dalam kasus-kasus hukum, bukan tidak mungkin di tahun 2013 akan semakin terkuak. Untuk itulah bagi para pemimpin mulai dari tingkat yang paling rendah hingga ke level tertinggi diharapkan dapat menjalani tugas mereka dengan lebih baik dan lebih amanah.

Lebih baik dalam arti menegakkan aturan, dan kebenaran dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun mengedepankan kepentingan masyarakat banyak. Bersikap adil dan menjunjung kebenaran serta bebas dari perilaku koruptif merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.

Apalagi suasana politik di dalam negeri semakin meninggi menjelang pemilihan presiden 2014, semua hal bisa terjadi, dan semua hal juga bisa muncul, serta hal-hal yang merugikan pun bisa lebih besar ada dibanding yang menguntungkan. Tentunya itu tidak kita inginkan bersama.  [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here