‘Merekayasa’ Sikap Penduduk

Jia Xiang – Memasuki musim hujan di penghujung tahun ini, banyak hal yang harus dilakukan. Persiapan untuk mengantisipasi musim hujan ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga seluruh warga. Tugas dan tanggungjawab ini menjadi beban bersama. Harus tumbuh kesadaran supaya tidak akan terjadi bencana banjir atau apa pun di musim hujan ini.

Seperti biasa bahwa setiap musim hujan ada saja bencana yang terjadi. Yang paling sering adalah banjir dan longsor. Ini yang sering muncul dan hampir terjadi di setiap wilayah. Hanya saja penanggulangannya berbeda-beda. Walaupun mungkin ada prosedur  tetap yang harus dilakukan, sayangnya karena beberapa hal penanganan seringkali terbengkelai, tersendat, dan jarang berlangsung baik.

Sebut saja, pemerintah DKI Jakarta yang sudah siap dengan beberapa program penanggulangan bencana, termasuk membentuk tim gabungan khusus dalam menangani bencana.  Semua unit dilibatkan mulai dari petugas Satpol PP, Dinas Pekerjaan Umum, Sosial, Perhubungan,  Kebersihan, Pertamanan, Kesehatan dan Pemadam Kebakaran. Jadi, diperkirakan ada sekitar 2.000 petugas yang siap diterjunkan bila terjadi bencana di wilayah ibukota ini.

Semua disiagakan. Artinya  mereka harus begerak cepat.  Tampaknya hal ini pernah dibuktikan melalui kerja cepat petugas Satpol PP mengecek aliran listrik, pagar dan lainnya,  setelah terdengar kabar beberapan orang meninggal akiibat tersengat listrik di tempat umum saat hujan. Kemudian sungai meluap dan banyak genangan setelah turun hujan.  Tim meminta Dinas PU memantau kondisi di lapangan.

Bahkan ketika pohon bertumbangan di beberapa wilayah Jakarta.  Tim juga langsung meminta  Dinas Pertamanan membersihkan  lokasi.  Bahkan tim  sudah minta Dinas Pertamanan memeriksa kondisi pohon yang tua dan membahayakan.

Pembentukan tim penanggulangan bencana DKI Jakarta, itu baru tingkat internal. Sedangkan di tingkat eksternal, Pemda DKI Jakarta serius menggandeng Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).   Kerjasama dengan BMKG untuk memperoleh informasi curah  hujan dan angin kencang di Jakarta.

Sementara kerjasama dengan BBPT  dalam upaya merekayasa cuaca bulan Desember  2013 yaitu  mengalihkan hujan ke arah Laut Jakarta.  Pemda DKI menilai rekayasa cuaca seperti itu  diharapkan bisa mengurangi  curah hujan yang mengguyur ibu kota.  Dengan kata lain, dengan teknologi penggarami awan hujan, maka awan itu kemudian  digeser ke arah laut.

Yang pasti semua itu dapat dilakukan, termasuk rekayasa  awan hujan. Tetapi apakah pemerintah DKI Jakarta bisa “merekayasa” sikap penduduknya untuk ikut mengantisipasi bencana. Yang ada justru warga yang setiap tahun kebanjiran, enggan meninggalkan rumah mereka. Kalau sudah terendam, ya…pasrah. Mau dibilang apa, wong setiap tahun seperti ini. Paling dalam beberapa hari banjir pun surut. Begitu surut ramai-ramai kembali lagi ke rumah maasing-masing, termasuk mereka yang tinggal di bantaran sungai.

Tampaknya pemerintah DKI harus serius “merekayasa” sikap penduduknya supaya menyadari akan bahaya bencana dan penyakit di kala musim hujan. Rekayasa seperti apa? Ya..mengubah cara pandang mereka dari “senang tinggal di tengah banjir” ke “senang mencegah banjir”.

Bencana ini bukan “kiriman”, tetapi bentuk ketidakpedulian dalam menjaga kebersihan lingkungan, saluran air, kali, dan sampah. Jangan sampai ketidakpedulian ini membuat warga terbiasa menengadah tangan tatkala banjir melanda, tetapi justru harus lebih dulu singsingkan lengan baju supaya mau bekerja mencegahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here