Minat Saksikan Olimpiade Turun Akibat Skandal Doping

(Foto: JX/Ist)

LONDON, JIA XIANG – Skandal-skandal doping yang mewarnai dunia olahraga telah mengurangi minat masyarakat untuk menyaksikan Olimpiade, demikian menurut jajak pendapat BBC World Service.Mayoritas 57%, dari 19.000 orang yang disurvei di 19 negara, mengatakan bahwa doping sudah menimbulkan “banyak” atau “beberapa” efek negatif terhadap tingkat perhatian mereka terhadap ajang pertandingan akbar itu. Para responden dari Jerman dan negara tuan rumah, yaitu Brasil, adalah peserta jajak pendapat yang paling terpengaruh.
Sekitar 62% warga juga mengatakan, prestasi negara mereka memiliki “banyak” atau “beberapa” dampak pada kebanggaan nasional. Keberhasilan Olimpiade memiliki dampak terbesar pada kebanggaan nasional di antara responden di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Kenya, Rusia, Peru dan India.
Kebanggaan nasional di negara-negara seperti Brasil, Jerman, Amerika Serikat dan Perancis terlihat sangat dipengaruhi oleh keberhasilan Olimpiade. Doug Miller, Ketua GlobeScan, perusahaan yang melakukan survei, mengatakan hasil jajak pendapat itu “juga menggarisbawahi pentingnya peran Badan AntiDoping Dunia (WADA) dalam menjaga nama baik Olimpiade.”
Awal pekan ini, WADA mengkritik Komite Olimpiade Internasional (IOC) karena menolak rekomendasinya untuk melarang Rusia dari Olimpiade Rio, mulai tanggal 5 Agustus. Sebuah penyelidikan yang ditugaskan oleh WADA bulan ini menyatakan, Rusia telah menjalankan program doping yang disponsori negara itu untuk “sebagian besar” cabang olahraga di Olimpiade musim dingin.
Jadi, sebagian besar orang di 13 negara dari 19 negara yang disurvei mengatakan penggunaan doping akan mengurangi minat mereka dalam menyaksikan perhelatan Olimpiade. Menurut survei tersebut, orang-orang yang paling banyak kehilangan minat menyaksikan Olimpiade karena doping adalah mereka yang bermukim di negara-negara Korea Selatan, Peru, Australia dan Perancis.
Namun, hanya 35% warga dari Jerman dan 36% dari Brasil yang mengatakan mereka menolak berkomentar tentang Olimpiade. Survei ini dilakukan antara bulan Desember 2015 dan April tahun ini. [JX/BBC/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here