Minyak Sawit Tetap Primadona di China

Medan, Jia Xiang – Minyak sawit mentah atau crude palm oil, masih menjadi primadona perdagangan dan ekspor Sumatera Utara (Sumut) ke China.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, neraca perdagangan dengan China tahun 2013, masih surplus hingga 346,566 juta dolar AS. Hal ini dipicu masih tingginya permintaan minyak sawit mentah dan karet dari China.

Kepala BPS Sumut, Wien Kusdiatmono menyatakan, nilai ekspor Sumut ke China tahun lalu mencapai 1,243 miliar dolar AS, sedangkan impor 896,734 juta dolar AS. Surplus perdagangan itu menggembirakan karena sebaliknya kondisi perdagangan luar negeri Sumut dengan beberapa negara lain mengalami defisit.

Dengan Malaysia, misalnya, perdagangan Sumut mengalami defisit hingga 526,491 juta dolar AS, dimana ekspor hanya 313,656 juta dolar AS, sedangkan impor sudah sebesar 840,347 juta dolar AS.

“Defisit Sumut terbesar adalah perdagangan dengan Singapura atau mencapai 812,869 juta dolar AS.Tetapi itu terjadi karena banyak barang impor yang melalui negara itu,” kata Wien seperti dikutip Antara, Rabu (5/2/14).

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun menyebutkan, perdagangan Indonesia dengan China masih tertolong dari bisnis minyak sawit dan termasuk karet.

China, hingga dewasa ini masih sangat tergantung dengan CPO Indonesia yang salah satunya berasal dari Sumut. Selain China, India juga pembeli besar CPO Indonesia setiap tahunnya.[U1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here