Monorail Rakyat

Jia Xiang – Gubernur Joko Widodo, hari Rabu (16/10/13) meresmikan peletakan batu pertama pembangunan Jakarta Monorail, di Taman Tugu 66 Kuningan, Jakarta. Artinya pembangunan fisik proyek monorail di Jakarta segera dilaksanakan, dan diperkirakan selesai dalam tiga tahun,  sekitar tahun 2016.

Rencana pembangunan monorail ini  sudah beberapa lama direncanakan  dan awal pembangunannya pun sempat tersendat, sehingga meninggalkan pilar-pilar beton yang berdiri tegak di beberapa kawasan, tanpa ada kejelasan pasti. Tetapi dengan peletakan batu pertama itu, pilar-pilar jembatan untuk  monorail menjadi bangunan yang utuh.

Pembangunan tahap awal ini akan dilakukan untuk Green Line yang menguhubungkan kawasan Kuningan sampai ke Palmerah. Belum lagi pembangunan fisik dilaksanakan, banyak pihak sudah menyinggung soal besarnya tiket monorail per penumpang.  Menurut Komisaris Utama PT Jakarta Monorail,  Edward Soeryadjaya, tarif monorail diperkirakan antara  Rp10 ribu –  Rp15 ribu.

Itu perkiraan, untuk memastikannya pihak manajemen perusahaan akan menganalisis dan mengikuti lebih dulu perkembangan harga nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Tampaknya penentuan harga tiket ini sedikit lebih panjang dan cermat. Jadi, perkiraan harga tiket itu, bisa senilai yang direncanakan, tetapi bisa juga menyimpang dari angka itu. Dengan kata lain, bisa saja lebih tinggi dari yang diungkapkan itu.

Karena itu, pemerintah tampaknya harus berpikir keras, mengkalkulasi harga tiket, sebab pada prinsipnya yang namanya angkutan massal, selain mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, nyaman, aman, dan harga yang terjangkau.

Kalau berkaca di negara-negara tetangga, biasanya monorail ini adalah angkutan untuk jarak pendek. Dan seperti di Singapura, harga tiket pun dihitung berdasarkan jarak per stasiun. Nah sekarang Jakarta, akan menentukan pola seperti apa dan berapa nilainya?

Dalam hal inilah  berarti kita bicara soal subsidi oleh pemerintah. Masyarakat pun tidak mau dipusingkan dengan hitung-hitungan yang dilakukan pemerintah, sebab itu urusan pemerintah. Yang mereka idamkan adalah harga terjangkau, aman, nyaman, dan tidak terlilit kemacetan, serta cepat sampai tujuan.

Yang mungkin bisa menjadi rujukan atau contoh mengenai penetapan harga tiket angkutan umum adalah Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line atau TransJakarta. Harga tiketnya sangat terjangkau. Pemerintah pusat memberikan subsidi kepada PT Kereta Api Indonesia melalui public service obligation (PSO) sebesar Rp286 miliar. Subsidi ini membuat  tarif KRL  lebih murah. Tiket Jakarta-Bogor yang biasanya Rp 9.000, kini hanya membayar Rp 5.000, sebab sisanya disubsidi pemerintah. Dengan subsidi itu pula, PT KAI menerapkan tarif progresif. Penumpang membayar Rp 2.000 bagi 5 stasiun pertama,  dan tambahan Rp500 tiap  3 stasiun.

Sementara pemprov Jawa Barat saja, sudah sejak dini mengumumkan rencana subsidi tarif monorail pada saatnya nanti. Hal itu, bagi pemprov Jawa Barat bentuk dukungan terhadap transportasi massal yang rencana pemasangan tiang pancangnya tahun 2014.

Lalu sekarang bagaimana pemerintah DKI Jakarta menetapkan tarif itu? Apakah sesuai dengan yang direncanakan yaitu antara Rp 10.000 – Rp 15.000, atau ada angka lain yang sudah menjadi pertimbangan?

Memang menentukan tarif banyak faktor harus diperhatikan antara lain, biaya modal, operasional, pemeliharaan, dan biaya lainnya. Tapi yang juga menjadi penting adalah kepentingan penumpang, sebab angkutan umum ini pada dasarnya adalah untuk masyarakat juga. [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here