Monyet Bertopeng

Di bawah teriknya matahari lehernya diikat dengan tali yang terurai sekitar 2-5 meter. Suara bising dan polusi udara perkotaan yang berasal dari knalpot kendaraan bermotor yang antre karena kemacetan dan mendera setiap sudut ibukota Jakarta seakan menambah penderitaannya.

Meskipun wajahnya ditutup topeng dari potongan boneka bekas, tapi dari lobang di bagian mata terlihat sorot matanya memelas mengundang rasa iba. Baju aneka warna, yang dimaksudkan untuk menambah kelucuan, tak lagi bisa mengundang tawa lantaran badannya kurus, kotor dan baju yang dikenakannya sudah berubah manjadi baju rombeng.

Sesekali di tengah kemacetan kota, memang ada yang menyempatkan membuka jendela mobil dan melempar lembaran ribuan rupiah sebagai sedekah, karena rasa iba dan bukan terhibur kelucuan,  kemudian diambil sang monyet bertopeng dan diberikan kepada si pawang yang menarik paksa lilitan tali di leher sang monyet.

Maksud hati sang pawang memberi hiburan bagi setiap orang yang lewat, nyatanya telah berubah menjadi jatuh iba bagi orang yang melihatnya. Itu adalah gambaran penderitaan keseharian dan harus ditanggung monyet-monyet yang dieksploitasi untuk mencari uang.

Jika dulu sebelum perkotaan tumbuh pesat, atraksi topeng monyet sering dipertunjukan di perumahan, bahkan bagi anak-anak Jakarta nama “Sarimin” identik dari sosok monyet yang lucu lantaran bisa meniru tingkah manusia dalam keseharian, misalnya ke pasar atau naik sepeda.

Tetapi dengan semakin sesak dan kompleksnya kehidupan di Jakarta, monyet-monyet penghibur itu kini tak lagi hanya sekedar “manggung” di lingkungan perumahan, tetapi sudah diarahkan ke pinggir-pinggir jalan dan trotoar di perkotaan. Dan fungsinya pun tak lagi sebagai “penghibur” tetapi sudah bergeser menjadi “pengemis”.

Sebelum Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) menggelar razia dan melarang eksplotasi terhadap monyet, yang sudah dimulai pada awal bulan Oktober 2013, banyak monyet yang dieksploitasi untuk “mengemis” di pinggir jalan di Jakarta.
Gebrakan Jokowi pun disambut baik oleh masyarakat Jakarta, sebab selain tidak “berprikemonyetan” atraksi monyet bertopeng itu cukup menambah keruwetan Kota Jakarta.

Selain itu dari sisi regulasi monyet yang dieksploitasi, umumnya jenis monyet ekor panjang (spesies macaca fascicularis), sesungguhnya harus dilindungi. Monyet ekor panjang ini adalah jenis binatang liar dan bukan hewan peliharaan.
Bahaya lain bagi masyarakat dengan adanya monyet bertopeng itu adalah soal penyakit yang bisa menular, termasuk kepada manusia, akibat gigitan atau cakaran monyet seperti, penyakit tuberkulosis (TBC), simian retrovirus (SRV), simian T-cell lymphotropic yang diyakini sebagai virus HTLV penyebab leukemia, dan human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS pada manusia.

Melihat persoalan yang ditimbulkan, maka sangat tepat gubernur Jakarta melakukan razia monyet bertopeng itu, dan tentu saja kita mendukung agar monyet-monyet itu dikembalikan ke habitatnya dan dilepas topengnya agar tidak menambah sesak Kota Jakarta. Sebab monyet-monyet bertopeng itu tak lagi memberi hiburan bagi masyarakat, yang ada justeru mengundang rasa iba.

SHARE
Previous articleAgen Perubahan
Next articleSalah Lagi, Salah Lagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here