MRT Butuh Transportasi Pendukung

Jakarta, Jia Xiang – Penerapan moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) berjalan maksimal bila semua moda angkutan umum di Jakarta terintegrasi dan dapat diandalkan untuk mendukung MRT. Selain membangun MRT, penataan moda angkutan umum lain harus dimulai dari sekarang.

Kepala Laboratorium Transportasi Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (UI), Ellen Tangkudung  mengatakan semua sistem angkutan umum yang terintegrasi dengan MRT menjadi kunci keberhasilan penerapan MRT. Jika tidak, MRT gagal total. Upaya mengurai kemacetan pun semakin tak jelas nasibnya.“Pemda DKI harus menata angkutan umum lainnya dari sekarang, jangan menunggu MRT selesai dibangun. Akses masyarakat menuju stasiun MRT harus dibuat mudah,” ujar Ellen kepada Jia Xiang Hometown di Jakarta, Kamis (12/12/13).

Jika penataan sistem angkutan umum lainnya dilakukan dari sekarang, akan menjadi proses adaptasi masyarakat untuk masuk ke sistem transportasi moderen. Jangan sampai setelah proyek MRT selesai dan siap digunakan, warga justru semakin kesulitan menggunakan fasilitas tersebut.

Selain  itu, rute angkutan umum di Jakarta harus dinamis, dalam hal ini Dinas Perhubungan DKI Jakarta harus segera membuat perencanaan yang matang. Stasiun penghubung merupakan bagian vital pada sistem MRT dan harus  terintegrasi dengan moda transportasi umum lainnya.

Mobilisasi penumpang yang mampu diangkut MRT hingga 400 ribu penumpang per jam, harus berjalan lancar pada setiap stasiunnya. Waktu pengangkutan penumpang pun harus cepat karena tujuan akhir penumpang bukan di stasiun tersebut, tetapi ke lokasi lain. Bila arus perjalanan itu tidak lancar, penumpang enggan menggunakan MRT. Transportasi ini pun tak akan mampu menjawab solusi kemacetan ibukota. Peran angkutan umum lain ditata untuk mempermudah akses penumpang menuju stasiun penghubung MRT, khususnya pada stasiun antara stasiun awal dan akhir. Tempat parkir untuk kendaraan pribadi juga harus disiapkan di stasiun awal dan akhir.

Hal yang lebih penting adalah, harga tiket MRT hendaknya mengacu pada konsep kemampuan masyarakat untuk membayar berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal. Bila harga tiket terlalu mahal MRT tidak laku, dan jika terlalu murah akan menimbulkan beban biaya operasional bagi pengelola. Guna menyiasatinya, pengelola bisa menggunakan metode Transit Oriented Development (TOD), yaitu memanfaatkan areal di tiap stasiun untuk disewakan bagi kegiatan usaha, namun harus ditata dengan baik.

Penegasan tentang harga tiket MRT yang harus terjangkau (murah) juga dikemukakan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut dia, meskipun investasi pembangunan fasilitas MRT membutuhkan biaya besar, namun harga tiket haruslah tetap terjangkau. “Sehingga penggunaan fasilitas transportasi moderen itu tetap menjadi pilihan warga Jakarta. Biaya terjangkau dengan kualitas pelayanan terjaga. Pasti warga akan lebih memilih menggunakan MRT ketimbang mobil pribadi,” kata Ahok.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestomi mengatakan, pembangunan MRT terdiri dari tiga paket konstruksi layang (surface section) dan tiga paket  konstruksi bawah tanah (underground).  MRT yang berbasis rel  ini panjang keseluruhannya sekitar 110.8 km, yang terdiri 23,8 km untuk Koridor Selatan-Utara dan sekitar 87 km untuk Koridor Timur-Barat.[JX/W1/U1/D9]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here