Natal dan Persoalan Kita

Setiap hari Natal, selalu bergema lagu dan pujian tentang kelahiran Yesus Kristus lebih dari 2.000 tahun lalu. Bahkan di berbagai gereja dikumandangkan  pula renungan, khotbah, atau apa pun namanya, yang mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus, yang oleh umat Kristiani sebagai juru selamat manusia.

Pada peristiwa kelahiran itu, kita diajak untuk mengenang bahwa kedatanganNya itu, membawa pesan damai, dan membuka jalan bagi manusia untuk lebih dekat lagi dengan sang pencipta.

Tidak heran pula bila pesan-pesan Natal itu, selalu dan selalu dikumandangkan pesan-pesan perdamaian, bahkan juga kasih untuk bisa saling memperhatikan dan berbagi  dengan sesema. Namun dalam kehidupan kita sehari-hari, masih dijumpai manusia yang selalu jatuh dan tenggelam di dalam ketidakpedulian, egois, ingin menang sendiri, iri hati, kecemburuan, dendam, dan mengejar kekayaan duniawi.

Akhirnya banyak kita temui manusia yang semakin kaya, ingin dipuji dan diperhatikan, harus hidup makmur melebihi orang lain.  Ujung-ujungnya, semua itu diperoleh dengan cara yang tidak wajar, jalan pintas lebih cepat meraih semua “kebahagiaan” itu, seperti korupsi, menipu, tindak kekerasan. Korban akibat perbuatan itu pun berjatuhan.

Yang lebih menyedihkan peristiwa-peristiwa seperti itu terjadi di negara tercinta ini, bahkan menimpa saudara, sahabat, dan masyarakat kita secara keseluruhan.  Yang kaya semakin kaya, dan mereka yang miskin dan kesusahan semakin terpuruk. Angka kemiskinan di negeri ini pun tampaknya tidak beranjak berubah, bahkan jumlah orang yang terlibat kejahatan seperti korupsi justru bertambah.

Bahkan, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Komisi Waligereja Indonesia (KWI), dalam pesan Natal bersama  tahun 2013 juga menyinggung bahwa hal masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tidak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi.

Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot.

Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan.
Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata.

Karena itu, gema tema Natal 2013 “Datanglah, Ya raja Damai” menjadi sangat relevan. Seruan ini  mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan.

Jadi, kita diingatkan kembali bahwa Kelahiran Yesus Kristus itu, membuat kita semakin menyadari akan diri kita sendiri, keberadaan kita dan lingkungan sekitar. Untuk itu bukan Natal ini sepatutnya dijadikan momentum, bukan sekadar bersenang-senang secara lahiriah, tetapi menjadikan kita sebagai ciptaan Tuhan yang senantiasa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Dalam kehidupan berbangsa di negeri yang pluralis ini, kita diharapkan dapat menjauhkan hal-hal yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Mari kita bersama-sama, bahu membahu, untuk melihat mereka yang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Marilah kita berlomba-lomba  berbuat sesuatu hal yang baik di mata Tuhan. Selamat Natal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here