NATO Terancam Pecah

(Foto: JX/Ist)

LONDON, JIA XIANG – Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah menjadi landasan keamanan Eropa sejak akhir Perang Dunia II. Sebagian pemimpin Uni Eropa mengatakan, sekarang Eropa harus bertanggungjawab sendiri atas pertahanannya, meskipun kemampuan militernya akan sangat berkurang tanpa dukungan AS.

Bukan cuma di NATO, bahkan Presiden Trump sudah siap menandatangani surat perintah eksekutif yang isinya mengurangi peran AS di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya, demikian berita yang dikutip dari New York Times, Rabu (25/1/17).

Tentara Jerman melakukan persiapan akhir sebelum dikirim ke Lituania, sebagai bagian dari pasukan yang terdiri dari 4.000 tentara NATO di negara-negara Baltik dan Polandia.

Langkah ini adalah untuk meyakinkan negara-negara garis depan. Tetapi komentar Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara baru-baru ini  menyebutkan bahwa NATO sudah “kedaluwarsa” atau “usang”, telah mengguncang sekutu-sekutu di Eropa.

Kepala Konferensi Keamanan Munich, Wolfgang Ischinger, mengatakan, “Selain krisis yang kita alami tahun lalu, Ukraina, Suriah, Laut Cina Selatan, Korea Utara dan lainnya, sekarang tampaknya ada kepanikan di Trans-Atlantik. Apakah NATO kedaluwarsa? Apakah Uni Eropa sesuatu yang dapat dan layak diabaikan Amerika?”

Sementara, Kanselir Jerman, Angela Merkel menanggapi dengan mengatakan, Eropa sekarang menentukan nasibnya sendiri. Tetapi akan diperlukan perubahan dramatis dalam kebijakan Uni Eropa untuk mengatasi keretakan aliansi dengan Amerika.

Jonathan Eyal, dari Royal United Services Institute mengatakan, “Tidak ada pengganti kekuatan militer Amerika. Hingga 75 persen dari semua aset militer di NATO adalah milik Amerika Serikat.”

Sekarang ini, Jerman bersama beberapa sekutu NATO Eropa lainnya menganggarkan dana pertahanan jauh di bawah 2 persen  PDB yang mereka janjikan tahun 2014.

Eyal menambahkan, “Ada komitmen di Jerman untuk meningkatkan anggaran pertahanan, tapi sangat kecil kemungkinan, terutama dalam tahun pemilu di Jerman, untuk menaikkan anggaran pertahanan secara signifikan”.

Anggota inti NATO termasuk Perancis, Jerman, Spanyol dan Italia ingin kerjasama militer dan intelijen lebih erat dengan Uni Eropa, langkah yang didukung oleh para pejabat di Brussels.

Sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan, “Kami sudah mulai melakukan hal ini, lama sebelum referendum Brexit Inggris dan pemilu AS karena keamanan merupakan prioritas bagi Eropa.”

Inggris telah merintangi upaya membangun aliansi militer Uni Eropa, karena khawatir itu bisa melemahkan NATO. [JX/VOA/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here