GEORGE TOWN, JIA XIANG – Tidak sulit mencari kedai kopi di kota George Town, Penang, Malaysia. Di sini banyak sekali kedai kopi. Di setiap kedai, dijajakan pula hidangan ringan sebagai teman minuman kopi.

Pemilik kedai di sana mempunyai relasi bisnis dengan pedagang kopi. Pola kesepakatan yang dijalin  ada sistem sewa, ada pula yang bagi hasil. Agar konsumen tidak kesulitan mencari kedai kopi, si pemilik berusaha mencari lokasi yang paling ramai dan dekat area parkir kendaraan.

Namun sangat beda dengan kedai kopi “Toh Soon”. Menilik fisik kedainya, terkesan kedai kopi yang kuno. Mirip warung kecil. Lokasi kedai kopi atau cafe ini sekitar 200 meter dari pasar Campbell St Mall, Jalan Campbell. Posisi persisnya di sebuah gang kecil pojok, yang jauh dari keramaian dan tempat parkir.

Kedai kopi yang dibangun apa adanya ini menempel pada deretan rumah toko (ruko), sehingga tak ada daya tariknya. Namun, kedai ini menarik perhatian karena selalu banyak orang berdiri di depannya. Mereka adalah para pengunjung yang sedang mengantre. Kebanyakan tamu yang datang silih berganti ini pun tidak diladeni oleh seorang pelayan.

Masing-masing pengunjung hanya memilih meja dan tempat duduk yang kosong  sambil menunggu pelayan menghampiri  untuk order. Di meja telah tersedia hidangan beberapa bungkusan nasi lemak seperti nasi kucing di Yogyakarta, karena prosinya tidak akan membuat perut kenyang.

Pelanggan pun harus sabar untuk menunggu pelayanan dari pemilik kedai kopi ini. Meskipun pelayannya wira wiri melewati meja tamu yang duduk, dia akan melayani tamu sesuai gilirannya. Yang datang terakhir tidak akan dilayani paling awal. Sehingga terkesan seolah-olah tamu tidak penting di kedai ini.

Kedai kopi “Toh Soon” yang telah eksis puluhan tahun  ini pun menawarkan jajanan roti bakar dan telur setengah matang. Menu spesialnya adalah kopi dan kopi susu. Yang mengaduk kopi atau kopi susu berada di tangan seorang lelaki paruh baya. Dengan sabar dia mengambil air panas dari drum yang selalu berada di atas tungku dengan api kecil. Air panas dituangnya ke teko tradisional. Selanjutnya dia menuangkannya ke gelas melalui saringan kopi yang tak pernah lepas dari tangannya.

Kopi atau kopi susu yang diaduk memang beda rasanya. Bila diseruput pelan-pelan terasa aroma harumnya. Boleh jadi garis tangan telah menurunkan keahlian kepada pemilik kedai “Toh Soon” hingga menjadi tenar di sentral kota GeorgeTown. Jarang turis mengeluh akan hidangan kopi atau kopi susu yang telah disajikan. Kebanyakan dari tamu hanya merasa keberatan karena tidak dilayani dengan baik.

Banyak pejabat dan profesional di pulau Penang ini suka mampir ke kedai ini. Mereka pun menyukai roti bakar. Lucunya roti bakar tidak dipanggang di atas alat panggang, melainkan sebuah tungku dengan api kecil. Meskipun demikian rasanya, menurut Jia Xiang yang menyambangi kedai ini, baru-baru ini, tidak ada beda dengan roti bakar yang dibakar melalui mesin.

Namun  demikian tamu tamu silih bergantian datang meskipun kadang harus antre setengah jam. Sepertinya tidak mencoba kopi Toh Soon, tidak merasakan kopi traditional yang sedap. Secangkir kopi, roti bakar dan dua butir telur setengah matang dibandrol dengan harga 5.5 ringgit. Boleh jadi termasuk harga yang murah dan merakyat bagi sebagian orang yang datang untuk minum dan makan.[JX/Iman Sjahputra]

This slideshow requires JavaScript.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here