NOAA : Pemutihan Terumbu Karang Sudah Berhenti

(Foto: JX/Ist)

WASHINGTON, JIA XIANG – Sebagai ekosistem yang sangat beragam,  terumbu karang merupakan habitat untuk beragam kehidupan di lautan. Terumbu karang  sering kali disebut “hutan tropis laut.”

Jadi,  ini adalah kabar baik bagi industri perikanan dan pariwisata bahwa pemutihan karang secara luas – sebuah proses yang mengubah warna karang menjadi putih, lemah, dan rapuh sehingga mudah patah – telah berhenti di semua cekungan samudera menurut U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Peristiwa pemutihan karang dalam kurun waktu dua tahun terakhir, yang disebabkan oleh tingginya suhu air, telah berdampak luas, ujar Mark Eakin, ilmuwan peneliti NOAA dan koordinator Program Terumbu Karang.

“Ada pulau-pulau di Samudera Pasifik tengah … dimana seluruh terumbu karang berubah putih,” ujarnya kepada VOA. Pemutihan karang membuat ikan enggan berkumpul, dan “orang-orang yang mengandalkan ikan sebagai sumber pangan atau usahanya, serta mata pencahariannya ikut menyingkir.”

Dia menambahkan,  di banyak tempat, pemutihan karang mulai mematikan dan menghancurkan terumbu karang yang sebenarnya  berfungsi untuk melindungi garis pantai dari erosi dan sering kali menarik wisatawan yang membawa alat selam untuk menyaksikan keindahan bawah laut yang unik itu.

“Di banyak tempat tersebut, orang-orang bergantung pada terumbu karang sebagai sumber pendapatan, karena  sebagai daya tarik wisatawan,” ujar Eakin. “Bila terjadi pemutihan, orang tidak lagi datang untuk melihat terumbu karang yang sudah mati.”

Tingginya Suhu

Pemutihan karang telah menjadi masalah yang berulang pada dekade belakangan ini, akibat suhu air telah meningkat di seluruh dunia, dampak dari pemanasan global. Salah satu peristiwa pemutihan karang terburuk terjadi akhir 2014. Sejak itu, lebih dari 70 persen terumbu karang di seluruh dunia telah mengalami tingginya suhu yang berkepanjangan.

Suhu panas membuat terumbu karang mengeluarkan organisme kecil, yang disebut zooxanthellae, yang memasok nutrisi kepada karang. Apabila organisme tersebut tidak kembali lagi, terumbu karang dapat kelaparan dan mati. Pada saatnya, rangka terumbu karang akan runtuh, yang menyebabkan seluruh terumbu karang hancur.

Kejadian pemutihan karang global pertama yang mendapat perhatian para ilmuwan terjadi pada tahun 1998 saat terjadi fenomena El Nino yang kuat – fenomena yang membuat perairan Samudra Pasifik lebih hangat dari biasanya, sering kali menyebabkan kekacauan pada pola cuaca.

Pemutihan karang terakhir juga berbarengan dengan fenomena El Nino yang kuat. Namun “terumbu karang masih bisa tertolong,” ujar Jennifer Koss Direktur NOAA Coral Reef Conservation Program. Katanya, para ilmuwan mengambil langkah-langkah untuk melindungi terumbu karang dengan mengidentifikasi spesies terumbu karang “yang lebih tahan terhadap peningkatan suhu samudra dan air yang terasidifikasi.”

Menurut laporan NOAA, kawasan di AS yang paling parah dilanda pemutihan karang adalah Florida, Hawaii, kawasan teritori Pasifik yaitu Guam dan Kepulauan Mariana.  “Dan kami juga sudah menyaksikan pemutihan karang di seluruh pantai timur Afrika, di sekelilingnya, dan kambali lagi ke pantai barat Afrika,” ujar Eakin.

Untuk saat ini, pemutihan karang telah berkurang atau berhenti di kebanyakan tempat. “Mungkin masih akan ada pemutihan karang akhir tahun ini di Pasifik utara dan Karibia namun tidak seluas seperti yang sudah-sudah,” ujarnya.

Untuk jangka panjang, para ilmuwan akan mengamati dengan seksama apakah terumbu karang dapat memulihkan kekuatannya. Bila tidak, samudra dan mereka yang menggantungkan hidupnya pada terumbu karang akan menghadapi masalah. [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here