Orang Tionghoa Jangan Takut Masuk Parlemen

JiaXiang- Prof Hendrawan Supratikno, MBA, Ph.D, adalah akademisi berdarah Tionghoa yang kini sukses berkiprah di pentas politik. Saat ini Prof Hendrawan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan.

“Sekalipun kita keturunan Tionghoa, tidak usah takut masuk parlemen, yang penting kita bekerja dengan tulus memberikan sumbangsih kepada penyelesaian persoalan makro yang menyangkut bangsa dan Negara ini,” kata Prof Hendrawan mengtawali wawancara dengan Jia Xiang di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/9/13).

Menurut Prof Hendrawan, eksistensi dari lembaga perwakilan rakyat (parlemen) di sebuah negara yang menganut sistem demokrasi merupakan sebuah keharusan, hal tersebut sesuai dengan UU No. 27 Tahun 2009. “UU No 27 Tahun 2009, mengamanatkan anggota dewan untuk memperjuangkan aspirasi konstituen,” katanya.

Terkait upaya memperjuangkan anggaran bagi daerah, Prof Hendrawan menyatakan, anggota DPR yang bukan anggota Badan Anggaran (Banggar), tidak mudah memperjuangkan aspirasi konstituen khususnya dalam politik anggaran. Karena persoalan mencari program dan anggaran untuk daerah bukanlah persoalan mudah.

“Misalnya saya di Komisi VI Bidang Industri Perdagangan dan Koperasi, sedangkan daerah yang saya wakili lebih membutuhkan perbaikan jalan dan pengadaan jembatan. Hal ini saja sudah bertentangan dengan kebutuhan daerah yang saya wakili (Pemalang-Pekalongan-Batang). Tapi saya dan teman-teman berusaha yang terbaik untuk memperjuangkan asprirasi konstituen kami,” tuturnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini menyatakan, sesungguhnya dengan keberadaan DPR masyarakat sudah mempunyai wadah untuk menyampaikan keinginan dan keluhan mereka, namun ternyata sulit untuk mencari proyek atau program untuk pembangunan daerah, dikarenakan parlemen di Indonesia terbagi atas komisi-komisi.

Prof. Hendrawan lahir di Sidareja Cilacap, Jawa Tengah, 21 April 1960. Setelah 25 tahun mengajar di USW, dia terpilih menjadi Anggota DPR-RI (2009-2014) Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah X. Ekonom ini menjadi seorang politisi yang memberi penguatan kualitas wakil rakyat di parlemen. Ia  juga mengajar di jurusan manajemen Fakultas Ekonomi UI dan Institut Bisnis Indonesia

Di DPR, dia menjadi Anggota Komisi VI DPR (2009-2014) yang membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Proklamator, koperasi, UKM, BUMN dan Standarisasi Nasional. Dia juga aktif sebagai Anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century DPR, 2010 dan Anggota Tim Pengawas Kasus Bank Century DPR.
Peraih gelar doktor dari Tinbergen Institute, Belanda (1998), perguruan tinggi yang didirikan oleh Jan Tinbergen (pemenang Nobel Ekonomi, 1969), itu selalu bersuara dengan pandangan-pandangan yang aspiratif terutama tentang perekonomian rakyat.

Di tahun 2010, di sela-sela kesibukannnya sebagai legislator, dia sempat menulis buku berjudul: ‘Ekonomi Nurani VS Ekonomi Naluri’ yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Dalam buku ini dia memaparkan adanya jarak lebar antara semangat “membela yang benar” dengan fakta “membela yang bayar”; antara “jalan pantas” dan “jalan pintas”, atau antara “transformasional” dan “transaksional”. [Yuv/A1/U1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here