Pameran Foto “Mengenang Djokjakarta Ibu kota Negara Republik Indonesia”

Pameran foto “Mengenang Djokjakarta Ibu kota Negara Republik Indonesia”. (Foto-foto: JX/Dimas Parikesit)

JOGJAKARTA, JIA XIANG – Pada 4 Januari 1946 Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta pindah dari Jakarta ke Jogjakarta Tepat pada tanggal ini pula Jogjakarta menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

DIM003Dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, Bentara Budaya Yogyakarta menggelar pameran reproduksi foto yang bertajuk “Mengenang Djokjakarta Ibu kota Negara Republik Indonesia”.

Pameran ini digelar dengan tujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang sejarah bangsa Indonesia semasa ibu kota pindah ke Jogjakarta. Karena Jogjakarta juga mempunyai peran penting atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DIM006“Banyak sekali sejarah penting yang terdokumentasi dalam foto-foto lama terutama situasi saat ibu kota pindah ke Jogja, itulah sebabnya mengapa kami tertarik untuk menggelar pameran reproduksi foto,” jelas Kurator Bentara Budaya Yogyakarta Hermanu.

Masa Jogjakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia tidaklah singkat. Selama empat tahun, pusat pemerintahan berada di Jogjakarta. Dalam kurun waktu tersebut banyak cerita dan kejadian sejarah yang terjadi di Jogjakarta. Seperti sejarah terjadinya Clash I dan Clash II, peristiwa politik, peristiwa perundingan, hingga peristiwa perang gerilya.

Seluruh peristiwa sejarah ini terekam oleh juru foto Indonesia saat itu termasuk dari Iphos dan Kementerian Penerangan pada masa itu.

DIM004“Kami tidak menemui foto-foto ini di buku sejarah pada masa saat ini, peristiwa dalam foto-foto ini belum pernah kami lihat,” jelas Hermanu.

Pernyataan turut bergabungnya Jogjakarta ke NKRI saat pertama dideklarasikan 17 Agustus 1945. ini pula yang membuat kota pelajarini mendapatkan status Istimewa dari pemerintah Indonesia.

“Dalam perjalanannya, Jogjakarta harus tetap istimewa untuk Indonesia dan terutama masyarakatnya. Perpecahan di Jogja saat-saat terutama radikalisme, ini menjadi pukulan bagi kita semua, karena itu menjadi bentuk penghianatan keIstimewaan Jogjakarta. Kita harus bias menyelesaikan semua segala bentuk pencobaan perpecahan di Jogjakarta,” tutur Budayawan Sindhunata SJ. [JX/Dms/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here