Para Peneliti AS Kembangkan Organoids untuk Atasi Kelainan Pada Tengkorak

(Foto: JX/Ist)

SAN FRANCISCO, JIA XIANG – Para peneliti dari Amerika Serikat  sedang mengembangkan segmen organ kecil yang disebut organoids, dalam upaya menemukan cara untuk mengatasi kelainan bentuk kraniofasial kompleks, yaitu tengkorak dan wajah.

Periset di University of California, San Francisco (UCSF), menggunakan sel induk dari pasien dengan kelainan bentuk kraniofasial kompleks untuk mengetahui kapan dan bagaimana kecacatan atau kelainan tersebut terjadi pada perkembangan janin.

Organ-organ kompleks kraniofasial sering kali  menjadi kesalahan  besar selama perkembangan janin. Kelainan bentuk tulang atau jaringan lunak ini, cacat lahir yang paling umum, dapat mengurangi daya hidup dengan cara menghalangi jalan napas atau sirkulasi udara, atau merusak wajah.

Selain itu, kelainan bentuk seperti itu dapat menyebabkan seseorang harus menjalani operasi korektif seumur hidup dan lebih buruk lagi yaitu terisolasi dari kehidupan sosialnya.

Sebagai Direktur Program UCSF di Biologi Craniofasial dan Ketua Divisi Anomali Craniofasial, Ophir Klein telah merancang sebuah penelitian untuk menerjemahkan temuan sains dasar dalam regenerasi jaringan ke dalam perawatan yang lebih baik untuk anak-anak dengan kelainan bentuk kraniofasial.

Ketika  Klein mengerjakan pertumbuh gigi, rekan-rekannya mencoba menumbuhkan jaringan yang membentuk wajah, atau otot, atau kelenjar ludah.

Karya Klein untuk menghasilkan gigi yang terinspirasi oleh pasiennya dengan displasia ektodermal, kelainan bawaan yang ditandai dengan kurangnya kelenjar keringat, rambut, atau gigi. Dia ingin mampu menghasilkan akar gigi akan luar biasa bagi pasien tersebut.

Gigi bisa diregenerasi. Sel induk bisa digunakan untuk menumbuhkan akar. Untuk menumbuhkan seluruh organ, para kolega Klein berencana untuk bermitra dengan bioengineer yang bisa menghasilkan bahan biokompatibel yang dapat  berfungsi sebagai alat pembentuk dentin, salah satu komponen keras pada gigi.

Jika mereka mulai dengan sel yang tepat, maka bangunan yang terbentuk akan membantu mereka menciptakan desain yang tepat.

Sebagai sumber  perkembangan manusia, sel induk akan mampu memperbarui terus-menerus dan  membedakan jenis sel yang dibutuhkan untuk membangun tubuh dari embrio.

“Ini adalah proses pengorganisasian sendiri,” kata Zev Gartner, profesor kimia farmasi, yang menjelaskan bahwa prosesnya dimulai di rahim dengan sel induk embrio (ESCs) atau, dalam kasus organoid, sel induk pluripoten yang diinduksi (iPSCs ).

Sel-sel ini adalah sel matang yang dilepaskan kembali ke tahap awal perkembangannya dengan menggunakan proses yang dirancang oleh Profesor UCSF dari Anatomi Shinya Yamanaka , yang memenangkan Hadiah Nobel untuk hasil penemuannya itu. [JX/Xinhua/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here