Pariwisata Indonesia Duduki Peringkat 42 Besar Dunia

Tanah Lot, Bedugul, Bali, masih menjadi daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG- Indeks daya saing pariwisata Indonesia menduduki peringkat 42 besar negara di dunia. Reputasi tersebut dirilis oleh The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017 yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF) pada 6 April 2017.

Kesuksesan ini merupakan kali kedua yang didapatkan Indonesia. Sebelumnya pada 2015, Indonesia menduduki posisi 50 dari sebelumnya di peringkat 70.

“Terima kasih! Ini berkat support dan komitmen Presiden Joko Widodo yang menempatkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama, leading sector dan sekaligus menjadikan core economy bangsa Indonesia,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, di Jakarta dalam keterangan pers yang diterima Jia Xiang, Jumat (7/4/17).

Arief belum berpuas diri dengan prestasi pariwisata Indonesia di mata dunia saat ini. “Pekerjaan rumah kita masih banyak, menumpuk, dan perlu kerja keras untuk mengurai satu per satu dari 14 pilar dan 4 sub sektor yang dipantau oleh TTCI Itu,” ujarnya.

Menpar Arief ingin pada 2019, Indonesia menduduki peringkat 30 besar dunia. Sehingga dia ingin jajarannya di Kemenpar dapat bekerja dengan spirit dan corporate culture: solid, speed, smart. “Harus kompak dalam satu tujuan,” tegasnya.

“Indonesia naik 8 tangga, Malaysia turun 1 dari posisi 26, Singapura melemah 2 dan Thailand naik ke peringkat 34. Tahun 2019, proyeksi kami, Indonesia akan naik di posisi 30 besar dunia,” harap Arief.

Indonesia sukses naik 8 peringkat itu dikalibrasi oleh lembaga dunia yang kredibel. WEF, mengambil data sangat akurat.

Potret TTCI itu sudah melalui proses kalibrasi berdasarkan standar global yang dipakai dunia. “Mereka men-collect data dari banyak sumber. Termasuk UNWTO dan World Bank, jadi ketika kita mengerjakan 14 pilar dengan baik, secara otomatis mereka akan menilai,” papar Menpar asal Banyuwangi itu.

Dari data yang terekam TTCI. Angka 14 pilar itu, paparnya,naik turun sangat dinamis. Business environment naik 3 trap, dari 63 ke 60. Healty and hygiene naik 1 level, dari 109 ke 108. International Openess naik drastis, dari 55 ke 17, karena faktor Bebas Visa Kunjungan.

“Priorization Travel and Tourism naik dari 15 ke 12, karena pemerintah Presiden Joko Widodo memang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata,” ujarnya.

Environment Sustainability membaik, meskipun masih di posisi 131 dari 134 dunia. Air transport infrastructure membaik 3 peringkat, dari 39 ke 36. Ground and port infrastructure naik dari 77 ke 69, Tourism Service Infrastructure juga naik dari 101 ke 96. Natural resources melejit dari 19 ke 14.

“Wonderful Indonesia harus segera move on ke 30 besar dunia. Untuk mencapai ranking 30 dunia, kita terus memperbaiki kelemahan seperti infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, health and hygiene, dan aksesibilitas khususnya konektivitas penerbangan, kapasitas kursi dan penerbangan langsung,“ ungkap Arief.

Ia menyadari, untuk memperbaikinya tak bisa instan. Tak bisa juga dilakukan oleh satu Kementerian. Karenanya Arief Yahya mendorong “Indonesia Incorporated”, harus kerja bareng bergotong royong dengan kementerian dan lembaga lain.[JX/Cka/W5]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here