Pemerintah Perlu Perhatikan Investasi Domestik

Malang, Jia Xiang-Pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Malang Prof Ahmad Erani Yustika menilai pemerintah selama ini hanya sibuk mendesain insentif untuk mendorong investasi atau penanaman modal asing (PMA), sementara investasi domestik terpinggirkan.

“Sampai sekarang belum ada tanda-tanda Kementerian Keuangan maupun Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM mendesain insentif untuk mendorong investasi domestik skala besar, bahkan nyaris nol. Tapi sebaliknya sangat sibuk memberikan insentif investasi asing agar mau menanamkan modalnya di Indonesia,” kata Erani di Malang, Kamis (12/12).

Bahkan, lanjut Erani, investasi dalam negeri atau penananam modal dalam negeri (PMDN) semakin terpinggirkan dan tidak mendapatkan akses seperti calon investor asing. Seharusnya, tegas Erani, pemerintah memberikan peluang investasi lebih besar kepada investor domestik.
“Saya yakin masih banyak investor dalam negeri yang mampu berinvestasi dalam skala besar, namun kesempatan dan insentif dari pemerintah yang belum ‘bersahabat’,” tegasnya. Menyinggung berbagai persoalan perekonomian di Tanah Air selama kurun waktu 2013, Erani mengatakan masih banyak yang harus dibenahi, terutama sektor-sektor sentral.

Ia mencontohkan hancurnya sumber daya energi di Indonesia bukan karena negeri ini tidak memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, tapi kebijakan pemerintah yang banyak sekali disusun atas intervensi dari berbagai pihak dan kepentingan, termasuk kepentingan asing.

Perdagangan minyak dan gas (migas) serta nonmigas pada tahun 2013, katanya, juga mengalami defisit karena Indonesia terlalu berani dengan sistem pasar yang terbuka. Kondisi seperti ini, lanjutnya, yang membuat rakyat Indonesia belum bisa menikmati kekayaan alamnya secara maksimal karena SDM maupun kemampuan dalam negeri juga belum diberdayakan secara optimal.

Erani meyakini jika problem-problem ekonomi yang menyelimuti tahun 2013 bisa dituntaskan, tahun 2014 perekonomian Indonesia akan semakin bagus dan kuat dan tidak akan mudah porak poranda oleh kondisi ekonomi negara lain.

“Selama ini kondisi perekonomian kita masih abnyak bergantung dengan ekonomi negara lain, ketika perekonomian di Eropa, Amerika atau negara maju lainnya goyah, perekonomian kita juga ikut goyah. Kondisi ini yang harus kita perbaiki agar kita tetap kuat, meski perekonomian negara lain goyah,” kata Erani. [Ant/B1]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here