Pemerintah Tiongkok Pantau Pencarian

Pesawat AirAsia

BEIJING, JIA XIANG – Pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa mereka ikut memonitoring dengan seksama perkembangan upaya pencarian  pesawat terbang AirAsia nomor penerbangan QZ8501 yang hilang pada hari Minggu (28/12/14).

Pemerintah  Tiongkok mengkhawatirkan keselamatan para penumpang dan awak pesawat tersebut. Dan pemerintah mengucapkan turut berduka kepada para keluarga korban pesawat AirAsia, demikian diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying dalam sebuah pernyataan yang dilansir bjreview, Senin (29/12/14).

Pesawat milik maskapai penerbangan AirAsia mengangkut 162 penumpang (137 dewasa, 17 anak-anak, 1 bayi dan 7 kru), kehilangan kontak dengan menara pengendali hari Minggu, setelah dari Surabaya menuju Singapura. Sejauh ini tidak ada warga negara Tiongkok dalam pesawat tersebut, tambah Hua.

Sementara itu, menurut rencana Wakil Presiden Jusuf Kalla akan ke Surabaya, Senin sore sekitar pukul 15.00 untuk menemui keluarga penumpang AirAsia QZ8501 di Crisis Centre di Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya, ungkap General Manager Angkasa Pura I Bandara Juanda, Trikora Harjo, kepada wartawan.
Dalam kunjungan itu  Wakil Presiden akan didampingi Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, sekaligus memantau proses pendataan korban.
Sementara itu, suasana Crisis Center Bandara Juanda, Senin pagi sudah diramaikan dengan keluarga penumpang. Mereka datang untuk mendapat  informasi terbaru tentang keberadaan pesawat.  Sedangkan, arus penumpang di Terminal 2 Bandara Juanda juga sudah ramai didatangi calon penumpang.
Di bagian lain, Badan SAR Nasional (Basarnas) hingga Senin pagi masih terus mencari hilangnya pesawat AirAsia tersebut. Basarnas  belum menangkap sinyal  Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat  tersebut. ELT akan memancarkan sinyal bila pesawat  mengalami kecelakaan seperti tabrakan.

Kepala Basarnas, Marsda TNI FH Bambang Soelistyo, kepada wartawan, Senin, mengungkapkan sampai kini belum mendapat sinyal ELT yang seharusnya terpancar sebagai akibat dampak tabrakan itu. Bahkan beberapa negara tetangga  juga tidak menangkap sinyal tersebut.  Karena itu, tambahnya, nanti Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan menginvestigasi mengapa ELT tersebut tidak menyala.
Soal titik perkiraan jatuhnya pesawat, Basarnas mendapatkan informasi titik koordinat terakhir. Dan ini akan dinalisis supaya bisa menentukan lebih lanjut daerah pencarian.
Area pencarian antara lain di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan,  dan juga di Sumatera yaitu di perairan Bangka Belitung. Basarnas juga memiliki alat penangkap sinyal ELT yang portabel sehingga bisa dibawa ke mana saja dalam proses pencarian. [JX/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here