Pemilu Parlemen, PM Inggris Theresa May Kehilangan Banyak Kursi

(Foto: JX/BBC)

LONDON, JIA XIANG – Banyak pihak di Inggris menyebutkan bahwa langkah Perdana Menteri Theresa May menggelar pemilihan umum sela sebuah kesalahan. Alhasil, walaupun belum resmi tampaknya Partai Konservatif tidak kehilangan banyak kursi, artinya mereka akan tetap berkuasa, namun tidak mutlak.

Langkah PM May ini menunjukkan bahwa dia masih harus berjuang untuk bisa mempertahankan jabatannya itu.  Kemunduran Partai Konservatif itu dibayangi oleh upaya memimpin pembahasan Brexit dan sekaligus makin lemahnya cengkeraman partai di Parlemen Inggris.

Artinya sampai hari Kamis (8/6/17) belum ada tanda-tanda kepastian pemenang pemilihan parlemen ini. Yang pasti sudah bisa dibayangkan PM May kehilangan mayoritas kursi di Palemen.

Tidak heran bila rival May, Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn,  meminta dia mundur sebagai PM, sebab hasil pemilu  itu diperkirakan akan menjadi Parlemen yang menggantung -tanpa mayoritas mutlak.

PM Inggris, Theresa May (Foto: JX/Mirror/PA)

Sementara itu, perkiraan BBC terbaru tentang hasil Pemilihan Umum sela Inggris menunjukkan, Partai Konservatif  akan tetap menjadi partai terbesar di Parlemen Inggris, namun mungkin tidak merupakan mayoritas mutlak.

Corbyn yang terpilih kembali sebagai anggota parlemen,  untuk wilayah Islington Utara, menjelaskan, rakyat telah memilih  “harapan untuk masa depan”.  Corbyn, yang meraih lebih dari 40.000 suara menambahkan,  PM memutuskan melangsungkan pemilu dini karena dia ingin sebuah mandat.  Namun sekarang mandat yang didapatnya adalah berkurangnya kursi Partai Konservatif, berkurangnya suara, berkurangnya dukungan, dan hilangnya kepercayaan.

“Saya pikir itu cukup untuk dia supaya mundur, dan memberi jalan bagi terbentuknya pemerintahan baru yang akan benar-benar mewakili semua orang di negara ini,” ujar Corbyn.

Sejauh ini sudah lebih dari 100 kursi hasil Pemilu yang diumumkan, namun harapan May untuk menang mutlak, kandas.  Sebelumnya, Menteri Luar Negeri  bayangan partai itu, Emily Thornberry mengaku Partai Buruh dapat membentuk pemerintah minoritas.

Partai Konservatif, atau dikenal juga dengan sebutan Tories, diproyeksikan akan mendapatkan 322 kursi. Sementara oposisi utama, Partai Buruh diperkirakan mendapat tambahan 29 kursi menjadi 261, sementara SNP (Partai Nasional Skotlandia) bisa kehilangan 24 kursi, dan menjadi 32 kursi, sementara Partai Demokrat Liberal diperkirakan mendapat 13 kursi atau lima kursi lebih banyak dibanding sebelumnya.

Betapa pun, perkiraan terbaru ini tetap sedikit lebih baik bagi Tories dibanding hasil exit polls sebelumnya, yang memperkirakan partai pimpinan PM Theresa May itu hanya akan memperoleh 316 kursi. Namun tetap saja, hasil Pemilu bisa membuat jumlah anggota parlemen partai itu nanti lebih sedikit dibanding saat sebelum PM Theresa May memutuskan dilangsungkannya pemilihan umum sela.

Pemerintah Minoritas

Pemilu ini dimaksudkan oleh PM Theresa May untuk  “memperkuat tangannya”  dalam perundingan Brexit mendatang. Dan hasil ini, menurut seorang pengamat, menunjukkan bahwa ternyata Theresa May  “salah perhitungan”.

Seorang pimpinan Partai Buruh, Tom Watson, mengatakan,  “Otoritas Theresa May telah dirusak oleh pemilihan umum ini. Dia kini adalah seorang perdana menteri yang ‘rusak’  dan reputasinya mungkin tidak akan pernah bisa pulih.”

Menteri Luar Negeri bayangan Partai Buruh, Emily Thornberry lebih jauh mengatakan kepada BBC News: “Mungkin saja kami membentuk pemerintahan sesudah pemilu ini.”

Namun untuk itu dia mengesampingkan kemungkinan koalisi. Menurut dia, jika hasil Pemilu ini adalah parlemen yang menggantung, Partai Buruh akan membentuk pemerintah minoritas, dan meminta partai-partai kecil seperti Demokrat Liberal dan SNP untuk mendukung program mereka.

Betapapun, politikus kawakan Partai Konservatif, Ken Clarke mengatakan bahwa dia yakin partainya akan memiliki  “mayoritas kecil secara keseluruhan” ketika semua suara telah dihitung, meskipun hasilnya baru akan diketahui Jumat (9/6/17) ini. Untuk mendapatkan mayoritas secara keseluruhan, dibutuhkan 326 kursi.

Seorang sumber Partai Demokrat Liberal mengatakan bahwa  “terlalu dini”  untuk menanggapi perkiraan hasil Pemilu ini, namun mereka sudah memutuskan untuk tidak bergabung dalam koalisi pemerintahan baru mana pun, baik Konservatif atau Buruh.

Para pemilih Inggris memberikan suara dalam pemilihan umum yang dibayang-bayangi oleh dua serangan teror.  Pemungutan suara dimulai pukul 07:00 waktu setempat pada Kamis (08/06) dan berlangsung sampai pukul 22:00.

Di samping memberikan suara langsung di tempat-tempat pemungutan suara, sebagian pemilih memberikan suara lewat pos. Secara keseluruhan di Inggris, panitia pemilihan umum menyediakan 40.000 TPS.

Sekitar 46,9 juta orang terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu untuk menetapkan 650 anggota parlemen. Data tersebut lebih besar dibandingkan pemilih yang terdaftar dalam pemilu 2015 sebanyak 46,4 juta. Dalam pemilu lalu, Partai Konservatif mendapat 331 kursi dari 650 kursi Parlemen Inggris.

Pemilu ini diselenggarakan lebih awal atas permintaan Perdana Menteri Theresa May. Sebelumnya PM May pernah mengatakan,  tidak akan menggelar pemilihan umum hingga berakhirnya masa kerja parlemen saat ini pada tahun 2020 mendatang.  Inilah pemilihan umum ketiga dalam kurun waktu lebih dari dua tahun.

Kepolisian Inggris mengatakan pengamanan diperketat di tempat-tempat pemungutan suara -termasuk patroli yang dilakukan oleh polisi bersenjata di beberapa lokasi- menyusul serangan teror di Manchester dan London. [JX/Rtr/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here