Penajaman Konsep

Oleh : Iman Sjahputra

Rabu (12/4/17) malam merupakan debat terakhir para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok, sapaan akrabnya) – Djarot Saiful Hidayat   dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Debat terakhir ini, merupakan klimaks dari perjuangan para calon sebelum masuk pada masa pencoblosan, Rabu (19/4/17). Tetapi ada yang berbeda dari perdebatan semalam. Mungkin bagi sebagian orang mengharapkan perdebatan semalam akan terjadi lebih seru, lebih tajam dan lebih diwarnai oleh suasana yang saling menjatuhkan atau melemahkan.

Harapan itu wajar saja, sebab melihat pengalaman di debat-debat sebelumnya di putaran pertama Pilkada DKI, banyak diwarnai oleh jawaban dan pernyataan-pernyataan yang mengarah ke masalah pribadi.

Tetapi debat puncak di putaran kedua ini sungguh berbeda. Sausana debat pun lebih tertib dan sopan. Terlihat atmosfir persahabatan begitu kental dibanding debat-debat sebelumnya. Walau pun ada silang pendapat, tetapi kini jauh lebih bersahabat. Tidak heran bila memang kita harus mengacungi jempol untuk dua pasangan calon gubernur DKI ini.

Sebenarnya masalah dan topik yang diperdebatkan juga bukan hal-hal baru. Kali ini boleh dikatakan sebagai penajaman dari misi, dan sasaran, serta penegasan program. Memang bagi calon petahana, memaparkan hasil kerja dan hal-hal yang sudah dicapai, jauh lebih mudah, ketimbang calon lain yang memang lebih mengedepankan retorika, sebatas rencana, tanpa memaparkan hasil konkrit  dan langkah pasti menjadi blue print baku.

Perlu diingat debat puncak itu, bukan sekadar penajaman program dan beberapa rencana yang menjadi fokus, tapi juga langsung pada persoalan yang dihadapi oleh warga Jakarta. Dengan kata lain, mereka memperlihatkan kapasitas dan kualitas masing-masing,  sehingga berbagai pertanyaan dijawab dengan menyentuh langsung pada kenyataan atau kondisi riil yang ada di Jakarta.

Kehadiran kelompok-kelompok masyarakat pada debat itu, sekaligus membawa langsung masalah yang ada di Jakarta. Tidak heran bila jawaban-jawaban yang ditunjukkan para calon itu tidak semata di atas kertas atau teori, tetapi juga dibahas secara tuntas pula. Keterlibatan publik ini juga memperlihatkan bahwa Jakarta memang Ibu Kota dengan warga yang beragam bukan dari sisi etnis atau suku, agama, namun juga profesi.

Dengan hadirnya masyarakat yang diwakili komunitas-komunitas itu, membuktikan bahwa mereka benar-benar bertarung konsep, gagasan, program, bukan menjual “pepesan kosong”, yang cantik-cantik saja di masa kampanye, belum tentu dilaksanakan begitu menjabat gubernur.

Karena itu, suasana penuh persahabatan itu, diharapkan juga menyejukan suasana Jakarta yang sudah keburu “panas” menjelang waktu pencoblosan, sekaligus menggambarkan kepada warga Jakarta tentang pentingnya pilkada ini.

“Sejuknya” kembali suasana Jakarta diharapkan bisa kembali mewujudkan atmosfir bersahabat, kekeluargaan, hidup saling berdampingan dengan damai, dapat terwujud lagi.  Sukses tidaknya pilkada ini juga bergantung pada warga Jakarta sendiri. Maju-tidaknya Jakarta juga bergantung dari warga Jakarta sendiri. Maka jadilah warga yang mau menggunakan haknya dengan baik dan benar dalam menentukan masa depan Ibu Kota tercinta ini.*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here